Tersingkir
Hidup bagaikan roda yang terus berputar, kadang menggilas, kadang digilas. Dalam derasnya persaingan dan panasnya kompetisi, manusia sering terhimpit hingga merasa tersingkir. Puisi “Tersingkir” ini mengajak kita merenung, menatap ke dalam diri, sekaligus berserah kepada Tuhan sebagai sandaran terakhir.
TERSINGKIR
Karya: Tisno
Kurasi: Choiril Anwar
Tersingkir…
kompetisi kehidupan kian ketat,
adu cepat, adu kuat,
seiring waktu yang terus berlari,
semakin singkat, semakin instan.
Berpacu dengan roda kehidupan,
yang berputar begitu kencang—
menggilas atau digilas,
menindas atau ditindas.
Menghela nafas,
coba berhenti sejenak,
sekadar membasuh diri.
Namun suasana begitu panas,
bagai menggenggam bara api.
Sang bayu pun terdiam,
membisu sesaat,
mencabut onak yang menancap dalam,
sudah lama bersemayam
di relung-relung hati.
Diam…
hanya untuk berintrospeksi,
meraba diri sendiri,
beradaptasi dengan argumentasi.
Tersingkir—
bila tak sejalan.
Jungkir balik menerjemahkan bayang,
seperti tarian tak serupa,
namun sepadan,
menggelayut jauh di awang-awang.
Suara-suara sumbang
mewakili segala kebimbangan,
mencari celah di dinding penghalang,
di sekat-sekat kehidupan
yang semakin jelas.
Tersingkir—
bila tak sebanding,
neraca miring, jiwa merinding,
dalam suasana hening.
Maka mengadulah kepada Tuhan,
bersimpuhlah di hadapan-Nya,
mintalah petunjuk pada-Nya,
sembah sujudlah hanya kepada-Nya.
Tuban, 09 September 2019
Baca juga puisi terkait:

Posting Komentar