Rasulullah Tidak Pernah Menghakimi tapi Memberi Teladan
1. Dunia Penuh Hakim Instan
Sukma menatap layar ponselnya. Jempolnya lincah mengetik komentar di media sosial.
“Dasar nggak tahu diri!” tulisnya di sebuah unggahan viral. Ia menekan tombol send dengan puas, seperti hakim yang baru menjatuhkan vonis.
Bagi Sukma, scroll—komentar pedas—scroll lagi, sudah seperti ritual minum kopi pagi. Dunia digital baginya bukan tempat berbagi, tapi arena kompetisi siapa paling cepat menghakimi.
“Kalau nggak galak, nggak seru,” gumamnya. Ia tidak sadar, setiap komentar yang ia lempar adalah cermin yang suatu saat bisa memantul balik.
2. Ketika Cermin Itu Retak
Hari itu, sebuah foto Sukma tersebar di Twitter dengan caption yang provokatif: “Mahasiswa ini ketahuan nyontek di kelas, pantas nilainya tinggi.”
Padahal kenyataannya ia sedang menunduk mencari pulpen yang jatuh.
Komentar deras mengalir:
“Mahasiswa model begini bikin ijazah murahan.”
“Kena karma tuh, sok suci di medsos.”
“Cancel aja, jangan diberi kesempatan lulus!”
Sukma kaget. Ia ingin membela diri, tapi suaranya tenggelam di lautan hujatan. Orang-orang yang bahkan tak mengenalnya sudah menjatuhkan vonis.
Untuk pertama kali, Sukma merasakan bagaimana sakitnya dihakimi tanpa diberi kesempatan bicara.
3. Pertemuan dengan Teladan
Kepalanya pening. Ia berjalan tanpa arah dan akhirnya berhenti di perpustakaan kampus. Di sana, ia asal mengambil buku tipis di rak agama. Judulnya sederhana: Teladan Rasulullah dalam Kehidupan Sehari-hari.
Matanya tertumbuk pada satu kisah. Seorang pemuda datang kepada Rasulullah ï·º, meminta izin berzina. Sahabat lain terkejut, tapi Rasul tidak memarahinya. Beliau malah mendekat, bertanya lembut:
“Apakah engkau rela jika itu terjadi pada ibumu? Pada saudara perempuanmu? Pada putrimu?”
Pemuda itu menggeleng malu. Rasul pun meletakkan tangan beliau di dada si pemuda, lalu berdoa:
“Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan jagalah kemaluannya.” (HR. Ahmad)
Sukma terdiam. “Jadi begitu caranya Nabi menghadapi orang salah? Tidak dengan caci maki, tapi dengan teladan dan doa...”
4. Sukma yang Baru
Sejak hari itu, setiap kali jempolnya gatal ingin mengetik komentar pedas, Sukma menahan diri. Kadang ia menulis, “Semoga masalahnya cepat selesai,” lalu buru-buru tersenyum kecil.
Temannya yang sering jadi bahan ejekan, kini ia ajak makan bareng. Ketika ada junior terlambat setor tugas, Sukma justru membantu, bukan menyoraki.
Ia tahu, memberi teladan memang tidak viral. Tidak ada ribuan like seperti komentar pedasnya dulu. Tapi anehnya, hatinya terasa lebih ringan.
5. Dunia Satir yang Tak Pernah Puas
Meski begitu, media sosial tetaplah media sosial. Netizen masih gemar jadi hakim dadakan. Tiap hari ada saja “tersangka baru” untuk dijadikan bahan hujatan.
Sukma kini melihatnya dengan kacamata lain. “Lucu juga,” pikirnya, “orang yang tidak tahu apa-apa bisa sok tahu segalanya.”
Ia tersenyum getir. Dunia maya memang candu menghakimi. Tapi ia sudah menemukan jalannya sendiri: jalan teladan.
6. Refleksi
Di beranda rumahnya, Sukma menulis diari:
“Menghakimi itu instan, tapi memberi teladan itu investasi. Rasulullah tidak pernah sibuk mencari kesalahan orang, tapi sibuk menunjukkan jalan yang benar. Andai lebih banyak orang meniru beliau, dunia ini mungkin lebih sunyi dari hujatan, dan lebih ramai oleh kebaikan.”
Ia menutup buku hariannya, menghela napas lega. Kali ini, ia benar-benar merasakan makna sabda Nabi ï·º:
Baca juga cerpen: Sehat dengan Cara Rasulullah“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Posting Komentar