PENDIDIKAN

Table of Contents

 Oleh: Choiril Anwar

pendidikan

Wahai Bapak Keilmuan,

ke mana pergi hak-hak belajar kami?

Katanya negeri ini menjunjung tinggi ilmu,

tapi sekolah kini seperti pabrik nilai,

menghasilkan ijazah tanpa pengetahuan,

dan gelar tanpa kebijaksanaan.


Wahai Bapak Keilmuan,

kami berserakan di mana-mana,

berlarian mengejar cita-cita yang ditentukan kurikulum,

bukan oleh mimpi kami sendiri.

Kami belajar menyontek demi ranking,

kami berdebat demi pujian,

kami patuh demi sertifikat.

Dan guru kami —

sungguh baik, tapi terjebak birokrasi,

tersesat dalam laporan, bukan keteladanan.


Wahai Bapak Keilmuan,

ilmu kami telah direbut gadget,

dirayu algoritma,

dan dijinakkan oleh notifikasi.

Kini guru-guru kami adalah

Pak Google yang tahu segalanya,

Pak Facebook yang sok bijak dengan kutipan palsu,

dan Pak WA yang menyebarkan gosip sambil mengajarkan kebodohan.


Oh, Bapak Pendidikan,

di mana engkau sembunyi?

Apakah di kantor kementerian

yang sibuk mencetak kebijakan tapi melupakan manusia?

Apakah engkau sedang rapat,

membahas anggaran untuk seminar yang tak pernah menyentuh hati siswa?

Atau engkau duduk di gedung megah

sambil menonton kami dari jendela ber-AC,

ketika kami harus belajar di bangku reyot

dengan atap yang bocor dan perut yang lapar?


Kami — orang-orang kecil —

tak punya kuasa, tak punya kursi di ruang rapat.

Kami cuma punya mimpi yang sering dibilang utopis,

dan semangat yang sering dianggap gangguan.

Kami — yang setiap hari menunggu perubahan,

tapi yang datang justru iklan bimbingan belajar,

dan motivator dengan kata “sukses” di setiap kalimatnya.


Oh, Bapak Pendidikan,

engkau mungkin sedang menulis buku tentang moral,

tapi anak-anakmu kehilangan arah di dunia digital.

Engkau mungkin bicara tentang karakter,

tapi karakter kami retak oleh sistem yang menindas.

Engkau mungkin berbicara tentang masa depan,

tapi kami hidup di masa kini

yang terus dilupakan oleh masa lalu.


Oh, Bapak Pendidikan,

kami tidak ingin sekolah hanya jadi tempat absen,

kami ingin sekolah jadi tempat tumbuh —

di mana pikiran disiram ilmu,

dan hati diajarkan kemanusiaan.


Namun, jika engkau tetap diam,

maka biarlah kami belajar sendiri,

dari jalanan, dari kegagalan,

dari dunia yang tak mengenal ujian tulis,

tapi penuh ujian hidup.


Oh, Bapak Pendidikan...

semoga engkau masih mendengar kami —

suara-suara kecil

yang kini belajar bukan untuk nilai,

tetapi untuk bertahan hidup.

Posting Komentar