Kyai, Pesantren, dan Wajah Media yang Tak Lagi Peka

Table of Contents

Oleh: Choiril Anwar

Gambar tangkapan layar cuplikan tayangan dalam program Xpose Trans 7.

1. Gelombang yang Mengusik Ketenangan

Jagat maya sedang ramai framing Trans7 yang seolah merendahkan martabat pesantren (tempat belajar agama), sampai-sampai banyak dari kalangan santri di media sosialnya memberi tagar #BoikotTrans7. Ketika media hari ini mulai kehilangan arah menampilkan framing yang melecehkan sosok kyai dan pesantren. Banyak orang marah, sebagian kecewa, sebagian lagi hanya geleng-geleng kepala—seolah berkata, “Kok bisa sampai begini?”

Sebagai seseorang yang tumbuh dengan hormat kepada guru dan kyai, saya ikut merasakan getirnya kabar itu. Bukan semata karena sebuah acara televisi, tapi karena ada luka batin yang tersentuh. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa dan Madura, kyai bukan hanya pengajar agama, tapi juga penjaga moral, telaga penyejuk kehidupan. Dan ketika media menggambarkan mereka dengan nada yang tidak pantas, seakan ada bagian dari nurani kita yang terusik.

Namun di balik kemarahan publik, saya justru melihat sebuah ironi yang lebih besar: betapa media hari ini sering kehilangan rasa. Mereka pandai menyusun kata, cepat menangkap peristiwa, tapi kerap lupa menimbang nilai di baliknya.

2. Kyai dan Pesantren dalam Mata Masyarakat

Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia adalah ruang kebudayaan dan spiritual yang telah melahirkan banyak tokoh bangsa. Dari sanalah muncul ulama, guru, dan pejuang yang mengajarkan makna hidup dengan kesederhanaan dan cinta ilmu.

Kyai di mata santri bukan hanya guru, tapi orang tua kedua. Setiap kalimatnya dianggap doa, setiap petuahnya cahaya. Di pesantren, bahkan cara duduk dan menyimak pun diajarkan dengan adab. Karena ilmu tanpa adab hanyalah hafalan kosong, sementara adab tanpa ilmu tetap akan melahirkan kebijaksanaan.

Ketika media berbicara tentang pesantren, seharusnya yang hadir adalah rasa hormat. Sebab pesantren bukan sekadar tempat belajar agama—ia adalah miniatur ketulusan di tengah dunia yang semakin bising.

3. Media dan Hilangnya Kepekaan Kultural

Saya bukan orang yang anti terhadap media. Justru saya percaya bahwa media adalah salah satu kekuatan moral yang bisa mengedukasi masyarakat. Tetapi hari-hari ini, ada kecenderungan yang membuat saya resah: media lebih sering mengejar rating daripada rasa, lebih cepat menilai daripada memahami.

Ketika nilai-nilai agama dibingkai dengan kacamata sensasi, maka yang muncul bukan pemahaman, melainkan prasangka. Narasi yang salah arah bisa mengubah wajah pesantren dari tempat belajar menjadi tempat curiga.

Media seharusnya sadar bahwa tidak semua hal bisa diberitakan dengan logika pasar. Ada ruang-ruang yang sakral, ada sosok-sosok yang dihormati bukan karena pangkatnya, tapi karena keberkahannya.
Dan di sinilah pentingnya cultural sensitivity—peka terhadap konteks sosial dan spiritual masyarakat.

Sayangnya, di era industri informasi, berita yang menyinggung sering dianggap “laku”. Seolah moral bisa ditukar dengan tayangan berdurasi tiga menit.

4. Antara Marah dan Memaafkan

Saya paham mengapa banyak orang marah. Saya pun merasakannya. Tapi setelah emosi reda, saya belajar bahwa marah saja tidak cukup. Karena jika kita hanya berhenti pada seruan boikot, maka kita hanya menambah kebisingan, bukan memperbaiki keadaan.

Kemarahan yang beradab adalah kemarahan yang mengedukasi.
Mungkin ini saatnya umat menunjukkan cara marah yang menenangkan: dengan klarifikasi, dengan doa, dengan memberi contoh bahwa pesantren tetap tempat yang sejuk, bukan tempat dendam.

Kyai-kyai kita selalu mengajarkan “ngalap berkah, bukan ngundang musuh.” Maka, biarlah kita tetap berjalan dengan kepala tegak dan hati tenang. Biarlah kebijaksanaan menjadi jawaban terhadap ketidaktahuan.

Saya percaya, bila media diberi ruang dialog dengan para ulama, banyak kesalahpahaman bisa disembuhkan. Sebab yang dibutuhkan sekarang bukan lagi perdebatan, tapi pertemuan—antara kata dan rasa, antara layar dan nurani.

5. Menyuarakan Kebenaran dengan Rasa

Media memiliki kekuatan luar biasa untuk membentuk cara berpikir publik. Namun kekuatan itu akan kehilangan makna jika tidak disertai empati. Sebab berita tanpa rasa adalah seperti kopi tanpa aroma: mengandung kafein, tapi tak memberi kehangatan.

Kyai dan pesantren adalah bagian penting dari wajah Indonesia. Menghormati mereka berarti menjaga akar kebijaksanaan bangsa. Dan setiap insan media seharusnya mengingat: tugas utama jurnalisme bukan hanya mengabarkan, tapi juga menjaga nilai kemanusiaan.

Seorang kyai sepuh pernah berkata,

“Kalau ingin bicara kebenaran, gunakan lidahmu dengan rasa, bukan amarah.”

Kalimat itu seakan menjadi pesan bagi kita semua — baik bagi umat yang tersinggung, maupun bagi media yang lupa arah.

6. Penutup – Agar Kita Tak Kehilangan Jiwa

Mungkin benar, di era ini media telah menjadi cermin masyarakat. Tapi jika cerminnya retak, yang tampak bukan wajah kebenaran, melainkan bayangan yang terdistorsi. Dan kita, sebagai bangsa yang menjunjung adab, seharusnya tidak membiarkan itu terjadi.

Kritik boleh, klarifikasi perlu, tapi kebijaksanaan harus tetap di depan.
Sebab yang sedang kita pertaruhkan bukan hanya citra pesantren, tapi juga martabat kemanusiaan.

Media boleh pintar bercerita, tapi tanpa rasa, ia kehilangan jiwa.
Dan ketika jiwa hilang, tak ada lagi yang bisa menuntun arah kebenaran.

Baca juga Esai terkait:

Posting Komentar