Idham Chalid: Dari Ketua DPR Termiskin hingga Cermin Kehormatan yang Hilang
Dalam sejarah panjang parlemen Indonesia, nama Idham Chalid tercatat bukan hanya sebagai politisi, tetapi juga sebagai tokoh bangsa yang dikenang karena kesederhanaannya. Lahir di Satui, Kalimantan Selatan, 1921, Idham Chalid tumbuh sebagai ulama, pemimpin Nahdlatul Ulama, sekaligus negarawan yang ikut membentuk arah bangsa pasca-kemerdekaan.
Di antara banyak jabatan yang pernah diembannya, salah satu yang paling mencolok adalah ketika beliau menjabat sebagai Ketua DPR/MPR periode 1971–1977. Namun, yang membuatnya dikenang bukanlah kekuasaan yang ia genggam, melainkan justru kesederhanaannya sebagai Ketua DPR yang disebut-sebut “termiskin” pada masanya.
Ketua DPR yang Sederhana
Berbeda dengan citra DPR masa kini, Idham Chalid menjalani hidup jauh dari kemewahan. Rumahnya sederhana, kendaraannya biasa-biasa saja, dan ia tidak memperkaya diri dari posisinya. Meski berada di lingkaran elite politik, beliau tetap hidup selayaknya rakyat kebanyakan.
Kesederhanaan itu bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena kesadarannya bahwa jabatan adalah amanah, bukan ladang mencari keuntungan. Ia lebih memilih mengabdi pada rakyat ketimbang menikmati fasilitas negara untuk kepentingan pribadi.
DPR Dulu dan Kini
Kisah Idham Chalid terasa kontras dengan wajah DPR saat ini. Lembaga legislatif yang seharusnya menjadi penjaga aspirasi rakyat justru kerap dipersepsikan sebagai simbol kemewahan, privilese, dan kepentingan elite. Gaji besar, tunjangan melimpah, serta berbagai fasilitas negara seringkali tidak seimbang dengan kinerja yang dirasakan rakyat.
Lebih ironis lagi, belakangan gelombang demonstrasi di berbagai daerah pecah akibat kebijakan DPR yang dianggap mengkhianati kepentingan rakyat. Dari RUU kontroversial hingga keputusan yang lebih berpihak pada elite, semakin mempertegas jurang antara rakyat dengan wakil yang mereka pilih.
Cermin Kehormatan yang Hilang
Idham Chalid memberi teladan bahwa kehormatan seorang pemimpin tidak diukur dari harta yang ia kumpulkan, melainkan dari kesetiaan pada amanah rakyat. Dalam kerangka Ibnu Khaldun, kehancuran sebuah negara bermula dari rusaknya moral pemimpin. Sebaliknya, kokohnya bangsa lahir dari pemimpin yang memelihara moral, akhlak, dan kejujuran.
Hari ini, DPR dan para pemimpin bangsa sepatutnya bercermin pada sosok Idham Chalid. Bahwa rakyat tidak menuntut kemewahan dari pemimpinnya, melainkan kejujuran, keberpihakan, dan kesediaan hidup sederhana bersama mereka.
Penutup
Ketika rakyat turun ke jalan menolak kebijakan yang dianggap menindas, itu pertanda ada jarak moral yang kian melebar antara penguasa dan rakyat. Dalam situasi seperti ini, mengingat kembali sosok Idham Chalid adalah cara untuk mengingatkan bahwa politik seharusnya bukan soal kekayaan dan kemewahan, melainkan soal pengabdian.
Karena pada akhirnya, sejarah hanya akan menghormati pemimpin yang menjaga moralnya.

Posting Komentar