Doa dan Darah di Negeri Nusantara
Oleh: Choiril Anwar
Kala itu, negeri ini diterpa badai derita,
tanah subur berubah menjadi luka,
jeritan rakyat Nusantara menggema,
membangunkan jiwa para santri
yang merindukan arti merdeka.
Dua puluh dua Oktober menjadi saksi,
peristiwa berdarah tercatat abadi,
bukan hanya oleh keberanian,
tapi oleh doa-doa yang tak henti
menjulang tinggi
menuju langit Ilahi.
Angin pun membawa kabar kemenangan,
usaha dan doa tak pernah sia-sia,
berbekal bambu runcing dan tekad membara,
penjajah diluluhlantakkan dari tanah pusaka.
Hubbul wathon minal iman,
bukan lagi sekadar lafaz hadits,
melainkan semboyan yang menyatu dalam dada,
cinta tanah air tumbuh begitu dalam,
bagai akar menancap di bumi pertiwi.
Siapa pun yang berani mengusik negeri ini,
santri akan berdiri di barisan terdepan,
siap mati demi agama dan bangsa,
seperti jihad suci yang tak pernah padam.
Maka biarlah rangkaian kata sederhana ini
menjadi pengingat bagi kita semua:
sejarah adalah cermin untuk membenahi diri,
sebab bangsa yang lupa akan masa lalu,
akan kehilangan arah di masa depan nanti.

Posting Komentar