Titipan Sang Suci
Table of Contents
Suara-suara itu
menelanjangi ingatan,
menggelitik telinga,
menyisakan gema yang pilu.
Hati bergetar,
raga tak kuasa,
terhisap kenangan
pada masa yang jauh di sana.
Di sanalah aku terlahir,
dimodifikasi waktu,
ditempa nasib
untuk menjadi insan berbudi.
Namun hari ini,
ketika kakiku menapak tanah itu,
aku merasa bagai sampah,
tak lagi bisa didaur,
tak lagi berharga.
Dan perlahan aku mengerti:
diriku hanyalah titipan,
tak lebih, tak kurang,
dari Sang Suci—
yang suatu hari pasti kembali.
CA PonPes. Sunan Drajat, November 2020

Posting Komentar