Sabda di Balik Bayangan (Satria Adil)

Table of Contents
Satria Adil

Di kaki Merapi, langit senja selalu temaram, seakan menyimpan rahasia leluhur. Di sebuah dusun kecil, orang-orang hidup dalam ketakutan—hasil panen dirampas, suara rakyat terbungkam, dan tanah warisan leluhur perlahan dijadikan milik tuan-tuan yang rakus.

Namun, di balik keheningan, selalu ada kisah yang bergaung dari masa lalu:

"Satria adil bakal rawuh, nggawa padhang kang sejati. Dudu saka emas, nanging saka ati sing suci."

Mbah Jati, seorang dalang sepuh, kerap mengisahkan tentang satria adil bukan sekadar tokoh wayang, melainkan bayangan yang hidup di hati manusia.

“Anakku,” katanya suatu malam, “satria adil ora mung sosok siji. Saben wong sing wani ngadhepi peteng kanggo nggawa cahya, iku uga satria adil.”

Wira, seorang pemuda desa, mendengar kisah itu sejak kecil. Ia tumbuh dengan dada bergejolak, seolah ada api yang tak pernah padam. Suatu malam, ia bermimpi: di tengah hutan bambu, seorang tokoh wayang muncul dari cahaya—entah itu Arjuna atau sosok lain yang tak pernah ditampilkan dalam lakon. Tokoh itu berkata lirih:

“Sabda adil ana ing jiwamu. Wong sing jujur lan wani, iku pangandikane jagad.”

Sejak mimpi itu, Wira tak lagi sama.

Ketika pasukan tuan tanah datang menagih pajak dengan cambuk dan tombak, Wira berdiri di balai desa. Tubuhnya gemetar, tapi sorot matanya seperti bara.

“Kita bukan kawanan yang lahir untuk ditindas,” ucapnya lantang. “Satria adil bukan dongeng di langit, ia ada di antara kita. Ing saben ati sing wani, ana satria sing tangi.”

Orang-orang terdiam. Lalu seorang ibu tua melangkah maju, menggenggam bahu Wira. “Le, yen kowe sing dadi pituduh, aku melu.”

Satu demi satu, rakyat desa berdiri. Malam itu, mereka tak lagi menunduk.

Dan anehnya, pasukan tuan tanah mundur. Seolah ada bayangan besar di belakang Wira—bayangan yang tak terlihat mata, namun dirasakan jiwa.

Sejak malam itu, desa itu menemukan terang baru. Mereka percaya, sabda leluhur benar adanya: satria adil bukan makhluk gaib yang turun dari langit, melainkan keberanian yang mekar di hati manusia, ketika kegelapan sudah terlalu pekat untuk dibiarkan.

Posting Komentar