Mantan Pemborong Proyek yang Bosan dengan Dunia Penjilat

Table of Contents
Mantan Pemborong Proyek

Di usia senja, seorang mantan pemborong proyek pemerintah memilih meninggalkan panggung penuh basa-basi. Ia bosan berhadapan dengan wajah-wajah palsu dan lidah penjilat yang menyesakkan. Cerpen satir ini menyingkap getirnya dunia kepentingan, sekaligus menawarkan renungan sederhana: bahwa beranda rumah yang sunyi seringkali lebih jujur daripada pesta yang ramai oleh topeng.

Pagi itu bus antarkota penuh sesak, tapi aku kebetulan duduk di samping seorang lelaki setengah baya. Tubuhnya agak tambun, rambutnya mulai memutih di pelipis. Tangannya berurat, bekas orang yang terbiasa berjabat tangan di ruang-ruang rapat.

Ia menoleh padaku, lalu berkata tanpa basa-basi:

“Nak, kau tahu apa yang paling melelahkan di dunia ini? Bukan menguruk tanah, bukan membangun jalan, tapi… menghadapi orang-orang penjilat.”

Aku tertegun, lalu ia melanjutkan dengan tawa getir.

“Saya dulu pemborong proyek pemerintah. Ah, dunia itu penuh dengan meja rapat dan map-map tebal. Tapi yang paling tebal sebenarnya bukan dokumennya, melainkan topeng orang-orangnya. Semua sibuk cari muka. Semua rela menekuk-nekuk lidah demi sepotong kontrak.”

Aku mencoba tersenyum. “Jadi Bapak bosan, ya?”

“Bosan sekali,” jawabnya cepat. “Kalau ada pejabat datang, semua orang berubah jadi penyanyi. Suaranya manis, lagunya sama: memuji, mengangguk, menjilat. Dan ironisnya, justru yang pandai menjilat itulah yang sering naik pangkat. Sementara orang yang jujur? Ah, dianggap batu sandungan.”

Ia menghela napas panjang, menatap ke luar jendela bus.

“Dulu saya juga ikut arus, Nak. Bagaimana tidak? Kalau tidak, proyek bisa lepas. Kau tahu, setiap kontrak seakan-akan punya dua lembar: satu tertulis di atas kertas, satu lagi ditulis di lidah-lidah manis. Yang tidak mau bermain, tersingkir. Begitulah hukum rimba.”

Aku diam mendengarkan. Wajahnya menyiratkan campuran penyesalan dan kelegaan.

“Tapi sekarang saya sudah tua. Saya sudah bosan dengan semua itu. Lebih baik saya di rumah. Menyapu halaman, menyiram bunga, memberi makan ayam. Ayam berkokok tanpa menjilat, pohon mangga berbuah tanpa pura-pura. Itulah teman hidup yang paling jujur.”

Aku tersenyum, lalu memberanikan diri bertanya, “Jadi Bapak tidak rindu dunia proyek itu?”

Ia menoleh cepat, matanya tajam. “Rindu? Hahaha!” tawanya meledak, tapi pahit. “Rindu apa? Rindu mendengar orang yang memuji saya dengan lidah bercabang? Rindu rapat yang isinya bukan rencana membangun, tapi rencana membagi jatah? Tidak, Nak. Rumah yang sepi lebih jujur daripada pesta penuh penjilat. Saya memilih beranda, bukan panggung.”

Bus perlahan berhenti di terminal. Lelaki itu berdiri, menepuk bahuku dengan tangan bergetar.

“Ingat kata-kataku, Nak,” ujarnya lirih sebelum turun, “lebih baik dihina karena jujur, daripada dipuja karena menjilat. Pujian palsu itu racun. Dan saya sudah kenyang menelannya.”

Ia melangkah pergi, hilang ditelan kerumunan. Dari balik kaca jendela, aku hanya melihat punggungnya yang tegap namun letih, meninggalkan jejak yang lama membekas di pikiranku.

Sejak saat itu, aku selalu teringat ucapannya:

Beranda rumah lebih jujur daripada ruang rapat yang penuh topeng.


cerpen-satir-mantan-pemborong-bosan-penjilat

Posting Komentar