Jejak yang Tertinggal di Tanah Sendiri
Cerpen ini menggambarkan kegelisahan generasi muda yang terhanyut budaya Barat hingga lupa akar sendiri. Melalui kisah Raka dan Mbah Karto, kita diajak merenungi arti jejak yang tak boleh hilang di tanah sendiri.
Raka duduk di kursi kereta, earphone menempel di telinganya. Musik Barat berdentum, membuatnya lupa waktu. Di pangkuannya ada gelas kopi kekinian yang sudah hampir habis. Notifikasi media sosial terus berbunyi: iklan sepatu, potongan konser, dan tren video terbaru. Raka menekan tombol “like” tanpa berpikir.
Hari itu ia pulang ke desa, diminta ibunya menjenguk kakeknya, Mbah Karto. Katanya, kesehatan Mbah sedang menurun. Raka menurut, meski agak malas. Desa baginya hanya tempat sepi, sinyal susah, dan hiburan terbatas.
Sesampainya di rumah tua, udara desa langsung menyambut dengan aroma tanah basah. Pohon sawo berdiri teduh, dan di beranda, Mbah Karto duduk dengan sarung digulung. Senyumnya tipis tapi hangat.
“Wah, gaya kota sekali. Kupingmu ditutup kabel, jaketmu mengkilap,” kata Mbah sambil menunjuk earphone.
Raka tertawa kecil, agak kikuk. “Namanya juga anak muda, Mbah.”
Mbah Karto hanya tersenyum. “Nanti malam ada tirakatan. Orang kampung kumpul, baca doa, makan sederhana. Kamu ikut ya.”
Raka mengangkat bahu. “Lihat nanti.”
Malam tiba. Lampu minyak menyala di beberapa teras. Di lapangan kecil, warga sudah berkumpul. Anak-anak berlarian sambil membawa tikar dan daun pisang. Raka berdiri di pinggir, sibuk menatap layar ponselnya yang sinyalnya lemah.
Tiba-tiba listrik padam. Suara desahan terdengar di mana-mana. Tapi tak lama, warga menyalakan obor dan lampu minyak. Cahaya kuning menari di wajah mereka.
Mbah Karto duduk di depan anak-anak dengan wayang kulit di tangannya. “Kalau listrik mati, cerita hidup,” katanya.
Raka berniat pergi, tapi Mbah memanggil, “Duduklah, Raka.”
Akhirnya ia duduk.
Mbah mulai bercerita. “Alkisah ada ksatria muda yang pergi jauh. Ia belajar banyak dari negeri lain: pakaian, bahasa, musik. Tapi setiap kali ia menari dengan irama asing, tanah di telapak kakinya merintih, karena jejaknya makin ringan, hampir tak menyentuh bumi sendiri.”
Anak-anak menyimak dengan penuh perhatian. Raka ikut mendengar, dan entah kenapa hatinya terasa hangat.
Ponselnya bergetar, panggilan dari temannya, Naya. “Kamu di desa? Gimana rasanya?” tanya Naya.
“Gelap. Tapi orang-orang malah kumpul, nonton wayang,” jawab Raka.
“Asik dong. Di kota kalau mati lampu, yang kumpul cuma keluhan di medsos,” kata Naya sambil tertawa.
Raka tersenyum tipis. Ia kembali menatap Mbah yang masih menuturkan cerita dengan suara mantap, meski tanpa mikrofon.
Esok harinya, Raka menemani Mbah berjalan ke langgar. Di jalan, mereka berpapasan dengan remaja membawa speaker besar, lagu Barat diputar keras-keras.
“Enak, kan? Kekinian banget,” kata salah seorang remaja pada temannya.
Mbah hanya tersenyum, lalu berbisik pada Raka. “Tak apa mengikuti zaman. Tapi akar jangan ditinggalkan. Pohon boleh tumbuh tinggi, tapi kalau akarnya rapuh, mudah tumbang.”
Raka menunduk. Kata-kata itu seperti mengetuk hatinya.
Malam berikutnya, tirakatan kembali digelar. Kali ini warga meminta Raka membantu menyiapkan kelir dari kain putih dan lampu minyak. Saat ia mengikat kain itu, terasa kasar di tangannya, seolah menghubungkannya dengan masa lalu yang ia lupakan.
“Raka,” panggil Mbah, “malam ini coba kamu yang bercerita.”
Raka kaget. “Saya? Mana bisa.”
“Cerita tak butuh kepandaian, hanya kejujuran,” jawab Mbah tenang.
Dengan ragu, Raka maju. Tangannya memegang wayang sederhana dari karton. Ia menatap anak-anak yang menunggu.
“Alkisah,” ucap Raka, “ada anak muda yang mengira dunia hanya ada di layar ponsel. Ia mengejar tren, lupa menengok jejaknya. Tapi suatu hari ia sadar, langkahnya tak akan punya arti kalau jejaknya hilang di tanah sendiri.”
Suara Raka gemetar, tapi perlahan menguat. Anak-anak tersenyum, orang-orang dewasa mengangguk pelan. Mbah Karto menepuk bahunya. “Nah, sekarang kamu paham.”
Keesokan harinya, Raka duduk di beranda dengan secangkir kopi buatan pawon. Ayam kampung berlarian, suara gamelan dari radio desa samar terdengar. Ia membuka ponsel, lalu menulis:
“Menjadi modern itu mudah. Tapi menjaga jejak di tanah sendiri, itu yang paling penting.”
Untuk pertama kalinya, ia merasa apa yang ditulisnya benar-benar dari hati.

Posting Komentar