Guru: Antara Pengabdian dan Profesi — Membaca Ucapan Menag yang Kontroversial
Beberapa waktu lalu, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menuai kontroversi setelah menyampaikan kalimat: “Kalau mau cari uang jangan jadi guru, jadilah pedagang.” Ucapan ini dianggap menyinggung martabat guru, hingga akhirnya beliau meminta maaf. Dan ini membuat pikiran saya terus terhantui dengan berbagai pertanyaan “Mengapa Menag harus minta maaf? Bukankah perkataannya itu sudah benar adanya?” karena dulu saya ketika masih duduk di bangku Madrasah Aliyah, guru saya juga sering berpesan kepada saya persis perkataan Menag “Le, kalau jadi guru jangan berharap kaya, kalau mau kaya ya berwirausaha” terus letak salahnya di mana?
Akhirnya saya tulis artikel ini dengan kegelisahan saya yang terus menghantui pikiran, bahwa pernyataan Menag adalah kebenaran pahit dan sudah semestinya harus direnungkan dalam-dalam bukan malah diperdebatkan. Faktanya, guru masa kini sudah jauh berbeda dengan guru-guru terdahulu. Kalau dulu guru dipandang sakral sebagai pengabdi ilmu dan moral, kini banyak yang menjadikan profesi guru hanya sebagai pekerjaan, bahkan batu loncatan untuk sekadar status sosial.
Guru Dulu: Simbol Pengabdian dan Kehormatan
Dahulu, guru dihormati bukan karena gaji atau fasilitas, melainkan karena dedikasi mereka mendidik generasi dengan ikhlas. Hidup sederhana tidak mengurangi wibawa mereka. Guru adalah teladan, panutan moral, bahkan sering menjadi penentu arah masyarakat.
Profesi guru lahir dari panggilan jiwa, bukan sekadar kebutuhan hidup.
Guru Sekarang: Antara Materi dan Formalitas
Realitas hari ini terasa kontras:
- Mengejar materi
Banyak guru menilai profesinya sebagai cara mencari gaji, tunjangan, atau sekadar jalan hidup, bukan lagi ladang pengabdian.
- Batu loncatan
Sarjana pendidikan yang tidak mengajar sering dianggap “kurang pantas” atau saru. Akhirnya banyak yang jadi guru bukan karena panggilan, melainkan karena keterpaksaan status.
- Sakralitas yang hilang
Murid tak lagi melihat guru sebagai sosok mulia, melainkan sebatas pegawai yang bekerja di ruang kelas “Buruh Intelektual”. Wibawa dan karisma guru perlahan memudar.
Dengan kondisi seperti ini, ucapan Menag sesungguhnya adalah cermin. Menjadi guru hari ini memang tidak identik dengan kekayaan, dan sering kali tidak lagi identik dengan pengabdian.
Refleksi Pahit
Kita sering mengulang jargon “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.” Namun realitasnya, banyak guru tidak lagi bermental pahlawan. Mereka mengajar hanya sebatas rutinitas, tanpa roh perjuangan mendidik.
Di sisi lain, negara pun gagal memberikan penghargaan yang layak. Akibatnya, profesi guru benar-benar jatuh pada titik yang serba paradoks: dituntut mulia, tapi dijalani hanya sebatas profesi.
Akhir Kata
Permintaan maaf Menag mungkin meredakan polemik, tapi pesan di balik ucapannya justru penting direnungkan: apakah guru hari ini masih memegang nilai sakral pengabdian, atau sekadar profesi untuk mengejar materi dan status sosial?
Jika guru hanya menjadi pekerjaan formal tanpa jiwa, maka generasi yang lahir pun akan kehilangan ruh pendidikan yang sejati.
Ucapan Menag pahit, tetapi mungkin kebenaran memang harus disampaikan dengan cara yang pahit.

Posting Komentar