Babak Baru di Ruang Istana
Langit Jakarta siang itu tampak muram, meski matahari masih menyala di atas kubah istana. Daun-daun trembesi berguguran ditiup angin, seolah ikut menanti sebuah kabar besar. Di ruang kabinet, deretan kursi kulit hitam berjejer rapi, namun ketegangan membuat udara di dalam ruangan kian berat.
Presiden duduk di kursi paling ujung meja panjang. Tubuhnya tegap, suaranya tegas, namun tatapannya menyimpan beban yang tak ringan.
“Saudara-saudara sekalian,” ucapnya membuka rapat, “negara ini sedang menghadapi gelombang yang besar. Kita perlu arah baru, strategi baru.”
Mata para menteri tertuju kepadanya. Sebagian menahan napas, sebagian menunduk, menanti apa yang akan diumumkan.
“Sri Mulyani,” Presiden memandang ke arah sang Menteri Keuangan, “pengabdianmu selama ini sungguh luar biasa. Namun perjalanan kita membutuhkan babak baru. Mulai hari ini, saya memutuskan untuk menggantimu. Penggantinya adalah Purbaya Yudhi Sadewa.”
Ruangan hening. Hanya suara jam dinding yang terdengar, berdetak satu-satu.
Sri Mulyani tersenyum tipis. Tangannya merapikan map di atas meja, lalu ia menatap Presiden.
“Bapak Presiden,” ucapnya lembut, “saya paham, jabatan hanyalah titipan. Saya sudah berusaha menjaga neraca negara, meski tak semua bisa saya selamatkan dari badai. Semoga pengganti saya bisa melanjutkan perjuangan ini dengan lebih baik.”
Presiden mengangguk. “Terima kasih. Saya menghormati pengabdianmu.”
Purbaya maju dengan langkah mantap. Bajunya sederhana, dasinya agak miring seakan terburu-buru, namun sorot matanya tajam. Ia menunduk hormat.
“Pak Presiden, saya menerima amanah ini dengan rasa syukur sekaligus berat. Angka-angka di buku negara bukan sekadar hitungan, melainkan nafas jutaan rakyat. Saya akan berusaha menjaga amanah itu.”
Beberapa menteri berbisik pelan di kursinya.
“Berani sekali beliau mengambil langkah ini,” kata seorang menteri berusia tua.
“Ya,” jawab yang lain, “tapi bukankah setiap dalang bisa mengganti wayangnya? Yang penting lakon tetap berjalan.”
Di luar istana, kabar pergantian menteri menyebar secepat angin. Di sebuah warung kopi dekat stasiun, para buruh dan pedagang kecil berdebat.
“Kalau ganti menteri, apakah harga beras bisa turun?” tanya seorang buruh dengan wajah cemas.
“Entahlah,” jawab pedagang sayur, “kadang ganti orang hanya ganti nama, tapi kebijakan tetap menghantam rakyat.”
Seorang kakek yang duduk di sudut warung menyesap kopinya perlahan. Dengan suara lirih ia berkata, “Dalam pewayangan, dalang bisa mengganti tokoh kapan saja. Tapi lakon hidup manusia bukan hanya di tangan dalang. Ada campur tangan semesta, ada sabda dari hati nurani.”
Orang-orang terdiam. Kata-kata kakek itu menggantung di udara, lebih kuat daripada aroma kopi tubruk di meja.
Sementara itu, di ruang istana, Presiden menutup rapat dengan suara tegas:
“Negara ini tak boleh berhenti. Kita harus melangkah. Mari bersama-sama kita buktikan, bahwa perubahan bukan hanya seremonial, tapi sungguh-sungguh lahir untuk rakyat.”
Sri Mulyani menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan. Purbaya menatap meja kabinet, lalu menghela napas panjang. Ia tahu, apa yang menantinya bukan sekadar jabatan, melainkan ujian besar—antara angka dan nurani, antara kekuasaan dan kebenaran.
Di luar, angin sore kembali berhembus, seakan membawa kabar bahwa sebuah babak baru telah dimulai. Entah akan membawa terang, entah hanya bayangan lain di balik kelir dunia.

Posting Komentar