Tukang Jahit Sandal dan Sepatu yang Gemar Membaca dan Menulis: Kisah Pak Tisno dari Jalanan

Table of Contents
Membaca atau Menulis tidak hanya bagi mereka yang berpendidikan tinggi

Di sebuah sudut jalan kecil di Tuban—desa Bulurejo kecamatan Rengel tempat kelahirannya dan beliau sekarang menetap di Kecamatan Kanor - Bojonegoro, tepat di rumah warga yang menjahitkan sandalnya, duduk seorang lelaki yang berumur setengah abad kurang lebih dengan kursi kecil dari plastik dan kotak perkakas usang. Namanya Pak Tisno, seorang tukang jahit sandal dan sepatu. Pekerjaannya sederhana—menambal, merekat, dan menjahit alas kaki yang rusak. Tapi di balik kesederhanaannya, ada satu kebiasaan yang membuatnya berbeda: ia gemar membaca dan menulis.

Membaca di Sela-sela Menjahit

Setiap kali belum ada pelanggan yang menjahitkan sandal atau sepatunya, Pak Tisno akan berhenti sejenak beristirahat¬—karena ia tukang jahit sandal keliling, di sela-sela waktunya istirahat ia merogoh tas lusuhnya dan mengeluarkan buku. Kadang novel lama, kadang kitab agama, kadang juga buku sejarah yang ia beli dari kios buku bekas.

“Buku itu hiburan sekaligus guru saya,” ucapnya suatu kali ketika saya tanya. “Kalau saya tidak baca, rasanya seperti ada yang kosong. Saya sudah gemar membaca dan menulis sejak dulu masih kecil usia anak Sekolah Dasar”

Meski tangannya kapalan karena jarum dan lem, matanya tetap berbinar setiap kali menemukan kalimat yang menyentuh hati. Ia bisa bercerita panjang lebar tentang tokoh-tokoh sejarah, atau mengutip syair Iwan Fals yang pernah ia baca dan musik-musiknya yang sering diputar.

Dari Membaca ke Menulis

Tak hanya membaca, Pak Tisno juga menulis. Di buku catatan bergaris yang sudah penuh coretan, ia menuliskan refleksi tentang hidupnya. Ada kisah tentang percintaannya yang menarik, renungan tentang sabar dan syukur, hingga catatan singkat tentang mimpi-mimpi kecilnya.

“Saya tidak sekolah tinggi cuma tamatan Sekolah Dasar, tapi saya ingin meninggalkan jejak pikiran saya. Siapa tahu anak-anak saya nanti bisa baca, atau cucu-cucu saya,” katanya sambil tersenyum.

Inspirasi dari Kesederhanaan

Pak Tisno mengajarkan bahwa cinta pada ilmu tak pernah mengenal batas profesi. Meski sehari-hari ia bergelut dengan sandal dan sepatu, pikirannya tetap berkelana jauh lewat buku dan tulisan.

Kebiasaan ini membuat orang-orang di sekitarnya kagum. Beberapa mahasiswa langganannya bahkan sering menitipkan buku untuk dipinjamkan. “Pak Hasan lebih rajin membaca daripada saya yang kuliah,” ujar seorang mahasiswa sambil tertawa.

Menjahit Ilmu, Menjahit Kehidupan

Seperti sandal yang ia perbaiki agar kembali bisa dipakai berjalan, Pak Tisno juga sedang menjahit hidupnya dengan ilmu. Dari tangannya lahir kerja keras, dan dari pikirannya lahir gagasan yang mungkin tak pernah ia sadari bisa menginspirasi banyak orang.

Kisah Pak Tisno adalah pengingat untuk kita semua. Membaca dan menulis bukanlah hak istimewa orang berpendidikan tinggi, tapi milik siapa saja yang mau membuka diri. Jika seorang tukang jahit sandal yang keliling jalan bisa menjadikan literasi sebagai bagian hidupnya, mengapa kita tidak?

Posting Komentar