Terbangun dari Tipu Daya
Kau hadir di setiap hariku,
menjelma sebagai putri nan ayu,
mengelabuiku dengan wajah palsu,
hingga aku terperdaya —
dan sungguh, aku malu.
Diriku terjerat dalam muslihatmu,
terlena dalam jerat yang kulihat indah semu,
sampai pesan raja mengetuk batinku:
“Kembalilah, engkau sedang terbelenggu.”
Tangis pilu menjatuhkan lututku,
aku tersungkur dalam debu penyesalan.
Lalu tuan guru mendekat,
menepuk pundakku penuh kasih:
“Nak, bangunlah… pintu-Nya masih menantimu.”
Lalu bara api berdatangan dari segala penjuru,
membakar seluruh ragu dan bimbang dalam jiwaku,
melebur sifat pengecutku,
mengubahnya menjadi tekad yang baru.
Terima kasih, Tuanku…
Kau bangunkan aku dari tidur panjang yang menyesatkan,
hingga aku kembali menengadah,
mengakui cinta-Nya
yang tak pernah meninggalkanku.

Posting Komentar