Setelah Detik Terakhir

Table of Contents
Seseorang yang hilang arah akibat tergoda dengan gemerlapnya dunia

Hafidz adalah seorang pegawai swasta, hidupnya sederhana namun akhir-akhir ini terasa hampa. Pekerjaan membuatnya lelah secara rutinitas, tapi bukan itu yang mengganggunya. Ia merasa doanya kering, shalatnya terburu-buru, dan pikirannya sering dipenuhi urusan dunia.

Suatu malam, saat pulang kerja, ia tertidur di ruang tamu dengan pakaian kantor masih melekat. Tubuhnya terlalu letih. Namun dalam mimpinya, sesuatu yang tak biasa terjadi.

Ia mendengar ketukan keras di pintu… tetapi bukan pintu rumahnya. Di hadapannya terbentang sebuah padang yang sunyi. Angin seakan berhenti. Langit berwarna kelabu. Ia berdiri sendirian.

Tiba-tiba dua sosok tinggi berwajah tegas datang menghampirinya. Pakaiannya putih, namun wajahnya penuh wibawa. Hafidz gemetar tanpa tahu siapa mereka. “Siapa kalian…?” gumamnya terbata.

Salah satu sosok itu menunjuk kepadanya, suaranya dalam dan menggema, “Engkau tidak bangun tidur, wahai Hafidz… engkau telah bangun dari kehidupan.”

Hafidz tercekat. Dadanya bergemuruh. Ia melihat ke tanah—dan terkejut menyaksikan dirinya sendiri sedang terbaring di sofa ruang tamu, wajahnya pucat, napasnya telah berhenti.

“Aku… sudah meninggal?” suaranya bergetar.

Mereka tidak menjawab, hanya mengisyaratkan agar ia ikut. Tanpa sempat menolak, langkahnya terasa ringan, seperti melayang. Mereka membawanya ke sebuah tempat luas seperti aula tetapi tanpa dinding. Di sana, berdiri manusia-manusia lain. Ada yang wajahnya berseri-seri, ada pula yang penuh ketakutan.

Lalu dibukakan sebuah lembaran catatan. Hafidz melihat setiap perbuatan dirinya ditampilkan — saat ia membantu ibunya, saat ia menunda shalat karena pekerjaan, saat ia bersedekah diam-diam, tapi juga saat ia tertawa berlebihan pada hal yang sia-sia.

Air matanya menetes. “Amalku terlalu sedikit…” lirihnya.

Tiba-tiba terdengar suara penuh kelembutan namun sangat jelas, “Seandainya engkau dahulu lebih memikirkan waktu sesudah ajalmu, niscaya hari ini engkau akan tenang.”

Hafidz menunduk. Ia ingin kembali, ingin memperbaiki, ingin mengisi hidupnya dengan amal yang lebih baik – tapi semuanya sudah terlambat.

Sekejap kemudian, ia terbangun.

Matanya terbuka lebar. Jantungnya berdetak kencang. Nafasnya tersengal. Ia masih di ruang tamu. Azan Subuh terdengar dari masjid dekat rumah.

Tanpa menunggu lagi, ia beranjak mengambil air wudhu. Hatinya bergetar. Ia tahu Allah baru saja menegur dan memberinya kesempatan kedua.

Hari itu hidup Hafidz berubah. Ia mulai shalat tepat waktu, mengurangi kelalaian, dan setiap kali azan berkumandang, ia teringat suara dalam mimpinya malam itu:

“Seandainya engkau dahulu lebih memikirkan waktu sesudah ajalmu…”

Cahaya yang Mulai Meredup

Cahaya yang Mulai Meredup

Sudah enam bulan sejak malam itu — malam ketika Hafidz mendapat teguran dalam mimpi tentang kematian. Sejak saat itu, hidupnya berubah. Ia rajin berjamaah di masjid, wajahnya lebih tenang, tutur katanya lebih lembut. Banyak teman dan tetangga kagum melihat dirinya yang sekarang.

Namun kehidupan terus berjalan, dan dunia tidak berhenti menggoda.

Di kantor, Hafidz dipanggil oleh atasannya. “Kami butuh sosok seperti kamu untuk posisi supervisor baru, Hafidz. Gajinya naik dua kali lipat. Tapi ya… mungkin kamu harus sering lembur dan siap turun ke luar kota.”

Hafidz tersenyum ragu. “Terima kasih Pak… saya pertimbangkan dulu.”

Awalnya ia ingin menolak. Tapi pulang ke rumah melihat kebutuhan semakin banyak, ia mulai berpikir, “Ini juga rezeki dari Allah. Kalau aku tetap shalat, tak masalah kan?” Akhirnya ia menerima jabatan itu.

Hari-hari berikutnya sangat sibuk. Lembur sampai malam, beberapa kali tidak sempat berjamaah. Ia masih shalat, tapi sering di ruang kantor, tergesa-gesa. Dia berkata dalam hati, “Aku masih ingat Allah kok.”

Di masjid, Pak Iskandar — tetangga yang dulu sering mengajak Hafidz — menegurnya halus, “Jarang terlihat sekarang, Hafidz. Semoga sehat ya.” Hafidz hanya tertawa kecil, “Iya Pak, doakan saja. Kerjaan sedang berat.”

Suatu malam, Hafidz lembur hingga larut. Semua kantor sudah sepi. Ia duduk menunduk di meja, kelelahan — lalu tertidur tanpa sadar.

Dan mimpi itu datang lagi.

Ia melihat dirinya berjalan di sebuah jalan panjang. Di ujung sana, ada cahaya lembut yang menenangkan. Ia ingin menuju ke sana. Tapi di sepanjang jalan, ada tumpukan emas dan harta berserakan. Hafidz melangkah cepat, tapi setiap kali ia melihat emas itu, tangannya refleks mengambil satu-dua keping.

Semakin banyak ia ambil, jalannya semakin berat. Langkahnya terseret. Cahaya di ujung jalan makin jauh. Nafasnya mulai sesak.

Tiba-tiba terdengar suara tanpa rupa:

“Dulu engkau sudah diberi jalan. Mengapa engkau kembali tertahan oleh dunia?”

Hafidz terdiam. Tangannya penuh emas, tapi ia tak bisa melangkah lagi. Ia jatuh berlutut. Cahaya itu perlahan menghilang dari pandangannya.

Saat itulah ia bangun.

Hafidz tersentak, tubuhnya berkeringat padahal AC kantor dingin. Jam menunjukkan pukul 2:30 dini hari. Kantor gelap. Hatinya berdegup keras. Ia mengingat mimpi pertamanya — tentang kematian. Dan kini mimpi kedua seolah memperingatkannya bahwa hidayah memang bisa hilang.

Di sudut ruang, ia menangis.

Keesokan paginya, Hafidz meminta bicara pada atasannya. “Pak, saya berterima kasih atas kepercayaan ini. Tapi… saya ingin mundur dari posisi supervisor. Saya takut hilang arah lagi.”

Atasannya terkejut, tapi menghormati keputusan itu.

Hari-hari Hafidz memang tidak sekaya dulu secara materi, tapi hatinya kembali lapang. Ia bekerja seperti biasa, tapi bisa pulang tepat waktu, bisa mengaji lagi, menemani ibunya makan malam, dan shalat berjamaah di masjid seperti dulu.

Kadang tetap ada godaan, tapi ia kini lebih sadar — bahwa menjaga hidayah itu justru mulai setelah kita menerimanya.

"Bukan seberapa hebat seseorang mendapat petunjuk…"

"...tapi seberapa kuat ia menjaganya di tengah godaan dunia."

Posting Komentar