Seteguk Air untuk Tuhan

Table of Contents
Seorang pemuda yang memberi air kepada seorang kakek-kakek

Siang itu matahari menumpahkan panas seperti api yang tumpah dari langit. Udara di kampung bergetar, aspal jalan kecil memantulkan cahaya menyilaukan. Arga, seorang mahasiswa tahun akhir, mengayuh sepedanya perlahan sambil mengelap peluh. Ia baru saja pulang dari kampus setelah mengikuti ujian skripsi yang membuatnya tegang sejak pagi.

Di pertigaan, ia melihat seorang lelaki tua duduk di bawah pohon waru. Pakaian lusuhnya basah oleh keringat, napasnya tersengal. Di sebelahnya ada karung berisi botol plastik bekas, tapi tak ada botol minum di dekatnya. Arga sempat melirik, lalu menunduk dan terus mengayuh.

“Panas sekali hari ini,” pikirnya. “Aku juga haus. Lebih baik cepat pulang.”

Beberapa meter kemudian, suara lirih mengejarnya. “Nak… ada air?”

Arga menoleh sebentar. Lelaki itu tersenyum lemah, bibirnya pecah-pecah. Namun Arga berpura-pura tak mendengar, melanjutkan kayuhannya. Hatinya berkata, aku tidak punya waktu, di rumah ada air, dan lagi… aku tidak mengenalnya.

Sore menjelang, awan kelabu menyelimuti langit. Arga tertidur di kamarnya, tubuhnya masih lelah. Dalam mimpinya, ia berada di sebuah padang luas yang asing. Cahaya lembut menyelimuti tempat itu, tapi tak ada matahari. Tiba-tiba, suara agung memanggil:

“Wahai anak Adam, Aku meminta minum kepadamu, tetapi engkau tidak memberiku minum.”

Arga kebingungan. “Ya Rabb, bagaimana mungkin aku memberi-Mu minum, sedangkan Engkau Rabb semesta alam?”

“Tidakkah engkau ingat, hamba-Ku si fulan meminta minum kepadamu, namun engkau enggan memberinya? Seandainya engkau memberinya minum, engkau akan mendapatkan-Ku di sisinya.”

Gemetar, Arga ingin menjawab, tapi lidahnya kelu. Ia melihat lelaki tua yang tadi duduk di bawah pohon waru, kini tersenyum kepadanya, memegang botol air yang bercahaya.

Arga terbangun dengan napas memburu. Jantungnya berdegup keras, bukan karena mimpi itu menyeramkan, tapi karena rasa bersalah menyelubungi dadanya. Ia mengambil botol air besar dari dapur, lalu berlari ke arah pohon waru.

Langkahnya terhenti. Lelaki tua itu masih di sana, tapi kini berbaring di tanah, bersandar pada batang pohon. Arga mendekat, menepuk pundaknya pelan.

“Kek… ini air. Minum dulu.”

Lelaki itu membuka mata, menyambut botol itu dengan tangan bergetar. Seteguk, lalu seteguk lagi. Senyum kecil muncul di wajahnya. “Terima kasih, Nak. Semoga Allah membalas kebaikanmu.”

Arga menelan ludah, matanya panas. “Maaf, Kek… siang tadi saya lewat dan tidak berhenti.”

Lelaki itu menepuk tangan Arga. “Tak apa. Yang penting, sekarang kamu datang.”

Arga duduk di tanah, menemani lelaki itu hingga senja turun. Mereka berbincang singkat—tentang cuaca, tentang hidup, dan tentang rezeki yang datang tepat waktu.

Saat Arga pulang, langit berwarna oranye keemasan. Di hatinya, ia mengulang kalimat dalam mimpinya: Seandainya engkau memberinya minum, engkau akan mendapatkan-Ku di sisinya. Kini ia mengerti: memberi seteguk air pada orang yang haus bisa menjadi jalan untuk mendekat kepada Tuhan.

Sejak hari itu, Arga selalu membawa botol air cadangan di sepedanya. Ia tak mau lagi melewatkan kesempatan kecil yang mungkin ternyata besar di sisi Allah.


Cerpen ini saya angkat dari sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim (no. 2569) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang bunyinya seperti berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُوْلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا ابْنَ آدَمَ، مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي. قَالَ: يَا رَبِّ، كَيْفَ أَعُوْدُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلَانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ. يَا ابْنَ آدَمَ، اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِي. قَالَ: يَا رَبِّ، كَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِي فُلَانٌ فَلَمْ تُطْعِمْهُ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي. يَا ابْنَ آدَمَ، اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِي. قَالَ: يَا رَبِّ، كَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ قَالَ: اسْتَسْقَاكَ عَبْدِي فُلَانٌ فَلَمْ تَسْقِهِ، أَمَا إِنَّكَ لَوْ سَقَيْتَهُ وَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي.

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla berfirman pada hari kiamat: Wahai anak Adam, Aku sakit, tetapi engkau tidak menjenguk-Ku.

Orang itu berkata: Wahai Rabb, bagaimana mungkin aku menjenguk-Mu, sedangkan Engkau Rabb semesta alam?

Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku si fulan sakit, lalu engkau tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu, jika engkau menjenguknya, engkau akan mendapati-Ku di sisinya?

Wahai anak Adam, Aku meminta makan kepadamu, tetapi engkau tidak memberiku makan.

Orang itu berkata: Wahai Rabb, bagaimana mungkin aku memberi-Mu makan, sedangkan Engkau Rabb semesta alam?

Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu, lalu engkau tidak memberinya makan? Tidakkah engkau tahu, jika engkau memberinya makan, engkau akan mendapatkan (pahala dari)-Ku di sisinya?

Wahai anak Adam, Aku meminta minum kepadamu, tetapi engkau tidak memberiku minum.

Orang itu berkata: Wahai Rabb, bagaimana mungkin aku memberi-Mu minum, sedangkan Engkau Rabb semesta alam?

Allah berfirman: Hamba-Ku si fulan meminta minum kepadamu, lalu engkau tidak memberinya minum. Tidakkah engkau tahu, jika engkau memberinya minum, engkau akan mendapatkan (pahala dari)-Ku di sisinya.” (HR. Muslim no. 2569)


Posting Komentar