Problematika Pendidikan antara: Sistem, Guru, dan Siswa

Table of Contents

Pagi itu, lonceng sekolah berbunyi tiga kali, menggema seperti ketukan palu yang memulai sidang. Alya menatap papan tulis yang masih kosong. Di meja depannya, selembar kertas hasil try out terlipat dua: 58, angka merah menganga seperti luka. Ia sadar betul bahwa semalam ia belajar hingga lewat tengah malam, meminum kopi instan, menandai rumus dengan stabilo warna-warni, mengulang soal-soal dari paket latihan. Tetapi angka tetap tak memihak. Di luar jendela, bendera sekolah berkibar malas; di dalam kelas, wajah-wajah murid lain juga memandangi angka mereka masing-masing, sebagian tertawa getir, sebagian menatap kosong.

Pak Darman masuk dengan langkah pelan, membawa penghapus dan penggaris panjang. Usianya empat puluh lima, rambutnya mulai memutih di sisi, tapi matanya tajam—bukan tajam yang menghakimi, melainkan tajam karena ia memperhatikan. “Anak-anak,” katanya pelan, “hari ini kita ulas soal nomor 12 sampai 20 dulu. Kita akan coba cara lain.”

“Pak, nilai try out ini… dihitung ke rapor nggak?” seru seseorang dari belakang.

“Tidak,” jawab beliau. “Tapi ini jadi bahan evaluasi. Bukan untuk memojokkan kalian, untuk memahat cara belajar kita.”

Ada gumaman lega, tetapi juga desah resah. Alya menahan diri, ingin mengangkat tangan dan berkata sesuatu, tapi ia takut suaranya bergetar.

Pak Darman menulis: Persamaan Kuadrat — Menemukan Pola. Ia bukan tipe guru yang hanya menyalin rumus. Ia memulai dengan cerita: “Bayangkan kalian sedang memasang papan lantai. Ada papan yang lebih panjang, ada yang lebih pendek. Kalau kalian susun dengan pola tertentu, lantai itu bisa rata. Persamaan kuadrat juga begitu. Kita cari polanya, bukan cuma menghafal.”

Di barisan depan, Raka—ketua OSIS sekaligus atlet sekolah—mengangkat tangan. “Pak, kalau di ujian nanti polanya nggak kayak gitu gimana?”

“Pola selalu ada,” ujar Pak Darman, senyum tipis. “Yang sulit adalah cara kita menemukannya di tengah waktu yang sempit.”

Alya menelan ludah. Waktu yang sempit—itulah musuh yang tak terlihat. Belum selesai ia merenungi, pintu kelas diketuk. Bu Ratna, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, muncul. Tubuhnya ramping, suaranya tenang namun tegas.

“Maaf, Pak Darman, interupsi,” katanya, menatap kelas sekilas. “Sebentar saja. Saya perlu mengingatkan, mulai minggu depan jadwal bimbingan tambahan wajib untuk kelas 12 ditambah. Setiap sore, Senin sampai Kamis.”

Ada helaan napas tercekat serentak. Sore-sore yang biasanya menjadi ruang bernapas kini direnggut.

“Bu,” sela Pak Darman hati-hati, “anak-anak ini sudah padat sekali. Mungkin kita bisa pilih dua hari saja, lalu…”

“Target kita 85% lulus seleksi PTN, Pak,” potong Bu Ratna, tetap dengan senyum formal. “Kita harus disiplin. Kita tidak bisa kalah dari sekolah sebelah. Bapak bisa usulkan metode mengajar apa pun, tapi jadwal bimbel tambahan harus jalan.” Ia menatap murid-murid, “Anak-anakku, kalian pasti bisa. Saya percaya. Sekolah ini percaya.”

Pintu menutup di iringi langkah kaki keluarnya Bu Ratna. Kelas sunyi. Pak Darman memutar penghapus di tangannya, lalu meletakkannya. “Baiklah,” katanya pelan. “Kita lanjutkan dulu. Nomor 12.”


Hari-hari berikutnya berlalu seperti kereta tanpa pemberhentian: pelajaran, bimbel, tugas, simulasi, pengumuman, bimbel lagi. Alya pulang ketika matahari redup seperti lampu yang hendak padam; ia makan sambil membaca rangkuman, mandi sekadarnya, lalu duduk lagi di meja kecil dekat jendela. Emaknya kadang menyodorkan susu hangat. “Jangan sampai sakit, Ly,” katanya. “Bapakmu pingin kamu masuk kampus negeri, tapi ibu cuma ingin kamu bahagia.”

Alya mengangguk, tak mampu jujur—bahwa ia tidak lagi bisa membedakan antara keinginan ayahnya dan keinginannya sendiri. Di dinding, poster “Tujuan Harus S.M.A.R.T.” menatapnya seperti mata pengawas ujian.

Suatu malam, setelah memaksa diri mengerjakan lima paket latihan, Alya menutup buku menekan-nekan pelipis. Notifikasi ponsel berdering: grup kelas. Raka menulis, Besok pagi ada tambahan bimbel Matematika jam 6.30, Bu Ratna minta semua hadir. Alya meletakkan ponsel, menatap atap. Ada retakan kecil di sudut, seperti cabang-cabang halus dari rasa capeknya.

Ia terbangun pukul dua dini hari karena mimpi: ia mengejar angka-angka yang berlari di koridor sekolah; tiap angka menertawainya, lalu berubah menjadi tanda tanya.


Di kelas, kelelahan menjadi bahasa yang tidak diajarkan, tapi dipahami bersama. Mata murid-murid cekung, buku-buku bertumpuk, humor receh menjadi pelampung. Satu-satunya hal yang berbeda adalah cara Pak Darman memulai setiap pelajarannya: ia meminta satu menit hening, memejamkan mata, bernapas. “Tarik pelan, hembus pelan,” ucapnya. “Biar otak kita punya ruang.”

Setelah Pak Darman memberi satu menit hening, ndilalah tangan Alya terangkat tanpa sempat ia pikirkan (refleks). Jantungnya menggedor. “Pak,” suaranya kecil, “kalau… kalau sistemnya begini terus, kita gimana? Maksud saya… kami capek. Saya capek. Saya belajar, tapi nilai saya tetap buruk. Saya bahkan lupa rasanya baca buku yang saya suka. Saya takut pulang ke rumah kalau hasil try out dibagikan. Saya… saya selalu seperti dikejar-kejar.”

Sontak semua mata yang di kelas itu tertuju kepada Alya. Beberapa teman menunduk, beberapa mengangguk perlahan. Raka menggigit bibir.

Pak Darman tidak langsung menjawab. Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya. “Terima kasih, Alya,” ujarnya akhirnya. “Pertanyaanmu bukan untukku sendiri, tapi untuk kita semua.” Ia menoleh ke jendela, ke lapangan yang panas di luar. “Sistem adalah pagar; kadang mencegah kita jatuh, kadang membatasi langkah. Guru seperti saya, ada di tengah: kami ingin kalian paham, tapi kami juga dikejar jam pelajaran, target, angka. Kalian… kalian yang paling dekat dengan dampaknya.”

“Jadi kita harus apa, Pak?” Raka menyusul, suaranya serak. “Kalau kami mengeluh, dibilang manja. Kalau kami diam, ya begini terus.”

Pak Darman menghela napas. “Kita mulai dari ruang yang kita punya. Dari kelas ini.” Ia menulis di papan: Kelas Eksperimen. “Dalam tiga pertemuan ke depan—di waktu pelajaran reguler, bukan bimbel—kita akan coba belajar tanpa mengejar skor. Kita pecah kelompok, kalian pilih satu topik, lalu ajarkan ke teman lain dengan cara kalian. Aku akan dampingi. Ini mungkin tidak mengubah jadwal bimbel, tapi setidaknya mengubah cara kita bernapas.”

Alya merasakan sesuatu yang lama tak ia rasakan: antusias. Kecil sekali, seperti api dari korek yang hampir padam, tapi cukup untuk membuatnya menegakkan punggung.


Rapat guru berlangsung pada hari Jumat, ruangnya dingin dan bercahaya putih. Bu Ratna membuka dengan slide presentasi: grafik naik-turun, tabel rata-rata nilai, target-target Nasional (wes mbuh kunu kuwabeh di tampilno). “Kita masih tertinggal dari sekolah sebelah dua poin,” katanya. “Kita perlu langkah lebih tegas.”

Pak Darman menunggu sampai sesi tanya jawab. “Bu Ratna, izinkan saya menyampaikan,” katanya, bangkit dari kursi. “Saya menemukan anak-anak kelelahan. Bukan hanya lelah fisik, tapi lelah makna. Mereka belajar untuk angka, bukan untuk paham. Saya usul untuk bimbel cukup dua hari saja jangan empat hari, tapi dengan pendekatan intensif—lebih banyak diskusi, lebih sedikit drilling. Dan untuk pelajaran reguler, beri kami otonomi mencoba metode yang memberi ruang bagi anak.”

“Pak Darman,” suara Bu Ratna tetap datar, “kita semua peduli pada anak. Tapi data berbicara: jam tambahan berkorelasi dengan peningkatan skor. Kita tak bisa liberal dalam pendekatan.” Ia menatap ruangan. “Kurikulum nasional jelas. Evaluasi jelas. Kita harus disiplin.”

“Data juga menunjukkan angka stress meningkat,” potong Pak Darman, suaranya kali ini terdengar agak berat. “Anak-anak mengeluh pusing, susah tidur, cemas. Mereka menghafal langkah, bukan mengerti konsep. Saya guru Matematika: saya percaya pada struktur. Tapi struktur tanpa ruang bernapas akan merobohkan bangunannya sendiri.”

Beberapa guru mengangguk ragu. Seorang guru lain, Pak Budi, angkat tangan. “Kalau turun jadi dua hari, orang tua protes. Mereka sudah bayar iuran.”

“Ini bukan soal uang,” kata Pak Darman. “Ini soal manusia.”

Sunyi menebal. Akhirnya Bu Ratna berkata, “Usulan Bapak saya catat. Tetapi untuk semester ini, kebijakan bimbel empat hari tetap berjalan. Untuk metode di jam reguler, selama tidak keluar dari silabus, silakan. Namun ingat, semua harus bisa diukur.” Waka kurikulum rekk ngeri toh? Hahaha.

“Tidak semua yang penting bisa diukur,” gumam Pak Darman, hampir tak terdengar. Ia kembali duduk, merasakan kekalahan tipis yang familiar. Di benaknya, wajah Alya terlintas.


Kelas Eksperimen dimulai seperti janji kecil yang berguguran di tengah badai. Alya memilih topik: Aplikasi Persamaan Kuadrat dalam Gerakan Parabola. Ia menggambar lengkung bola yang ditendang, memperlihatkan bagaimana koefisien mempengaruhi lintasan. Raka—yang biasanya diam saat Matematika—mengambil peran menirukan komentator sepak bola, membuat seluruh kelas tertawa. Kelompok lain membuat mini-komik tentang kesalahan umum saat memfaktorkan. Pak Darman berjalan di antara mereka, sesekali menunduk, sesekali bertanya, “Kalau koefisien a negatif, apa artinya untuk bukit parabola kalian?”

Pada akhir jam, keringat menempel di dahi, tetapi bukan karena panik. Di papan, bukannya tertulis rangkuman rumus, tetapi tertulis kalimat: Mengerti dulu, baru mengulang.

Sepulangnya, Alya membuka buku Matematika tanpa rasa mual. Ia mencoba menuliskan ulang penjelasannya tadi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak menatap ponsel selama dua jam. Emaknya memerhatikan dari dapur, senyum tipis, seperti seseorang yang melihat tunas kecil di halaman.

Namun badai di luar kelas tak berhenti. Notifikasi masih datang: jadwal bimbel, daftar soal wajib, try out mendadak. Alya masih saja kadang mimpi dikejar angka. Pada suatu siang saat bimbel, ia pusing hingga pandangan berkunang. Ia pamit ke toilet, berpegangan di tembok. Di cermin, wajahnya pucat, bibir kering. Ia bersandar sampai napasnya kembali teratur.

Ketika keluar, ia berpapasan dengan Bu Ratna. “Kamu baik-baik saja?” tanya Bu Ratna, suaranya tak setegas biasanya.

Alya ragu, lalu mengangguk. “Baik, Bu.”

“Mau minum?” Bu Ratna membuka botolnya, menyodorkan.

“Terima kasih, Bu.” Alya meneguk air dingin itu pelan-pelan. Tiba-tiba kata-kata mengalir keluar dari mulutnya sebelum ia sempat menyaring. “Bu… saya capek. Teman-teman juga capek. Terkadang saya merasa seperti angka, mengejar nilai tapi malah saya yang dikejarnya, saya ini manusia.”

Bu Ratna menatapnya, tidak berkedip. Ada sesuatu yang melunak di matanya. “Waktu saya SMA,” katanya perlahan, “Ibu saya menyuruh saya masuk kedokteran. Saya gagal dua kali. Saya menangis setiap hari. Pada akhirnya saya memilih pendidikan. Ibu marah setahun penuh.” Ia diam sejenak. “Kamu tahu? Sampai sekarang, setiap kali melihat angka, saya teringat wajah Ibu. Saya… mengerti capekmu.”

Alya tertegun. “Lalu kenapa… bimbel empat hari, Bu?”

Bu Ratna menarik napas panjang. “Karena sistem menilai sekolah dengan angka. Orang tua menilai sekolah dengan angka. Dinas menilai kami dengan angka. Kalau grafik kita turun, banyak yang akan bertanya. Saya tidak mau guru-guru disalahkan. Saya tidak mau kalian dimaki. Saya memilih pagar karena di luar pagar ada tebing.”

“Di dalam pagar kami kehabisan napas,” gumam Alya.

Keduanya berdiri di koridor sepi itu, diapit poster-poster motivasi yang mengilap. Bu Ratna menatap jam tangan. “Kembali ke kelas, ya. Dan… jaga dirimu. Kalau pusingnya sering, bilang BK.” Ia berbalik, melangkah pergi. Alya berusaha menangkap sesuatu di punggungnya—mungkin penyesalan, mungkin keberanian yang belum cukup matang.


Hari pengumuman hasil try out berikutnya, kelas terasa seperti ruang sidang lagi. Alya menimang-nimang kertasnya: 74. Angka yang tidak memukau, tapi baginya terasa seperti bukit kecil yang berhasil ia daki. Raka menepuk bahunya. “Naik jauh,” katanya, tersenyum.

Pak Darman membagikan kertas terakhir, lalu menatap mereka. “Kalian sudah berjalan. Itu yang penting.” Ia merogoh tas, mengeluarkan amplop cokelat. “Aku ingin memberi kalian tugas yang berbeda. Satu halaman saja: tuliskan—dengan jujur—apa yang kalian rasakan tentang cara kalian belajar, tentang sekolah ini, tentang matematika, tentang masa depan. Tidak akan memengaruhi nilai. Ini untukku.” Berusaha memberi ruang nalar waras pada siswanya, yo iki guru teladan rek.

Malam itu Alya menulis. Di awal kata tangannya bergetar, lalu kalimat-kalimat mengalir. Ia menulis tentang ketakutannya mengecewakan ayah, tentang rasa ingin berhenti, tentang Kelas Eksperimen yang membuatnya kembali merasa pintar, tentang mimpi sederhana: ingin menjadi arsitek yang menggambar ruang yang membuat orang betah. Ia menutup surat itu dengan kalimat, Saya ingin nilai, tapi saya juga ingin napas.

Beberapa hari kemudian, Pak Darman mengembalikan surat-surat dengan catatan kecil. Di pojok surat Alya, beliau menulis: “Arsitek butuh matematika dan empati. Kamu punya keduanya. Jaga napasmu.” Sambil dikasih emot senyum manis.

Alya melipat surat itu, menyelipkannya di buku agenda. Ada sesuatu yang berubah: masalah tidak lenyap, jadwal tidak berkurang, target tidak melemah. Tetapi kini ia tidak sendirian.


Menjelang ujian akhir sekolah, Bu Ratna memanggil seluruh wali kelas dan perwakilan siswa ke aula. Di atas panggung, ia berdiri dengan wajah yang sama tegasnya, tetapi suaranya berbeda—lebih pelan, seperti seseorang yang berusaha menyeimbangkan beban.

“Saya membaca beberapa surat kalian,” katanya. “Surat yang diminta Pak Darman.” Beberapa siswa saling menatap; rupanya sebagian dari mereka menuliskan yang sama. “Ada banyak keluh kesah yang jujur, banyak harapan. Saya tidak akan menjanjikan perubahan besar besok. Tapi mulai minggu depan, bimbel akan menjadi dua hari untuk minggu terakhir sebelum ujian. Hari lain kita gunakan untuk klinik pemahaman—kalian datang dengan pertanyaan, bukan kewajiban duduk.”

Ruang aula riuh kecil. Raka mengangkat alis, tersenyum. Alya menoleh ke Pak Darman yang berdiri di samping panggung; beliau menatap ke bawah, seolah tidak ingin menonjol, tapi sudut bibirnya terangkat.

“Dan satu lagi,” lanjut Bu Ratna. “Setelah ujian, kita akan mengadakan forum terbuka: ‘Sekolah yang Kita Mau’. Siswa, guru, orang tua. Kita bicara. Kita cari ruang bernapas itu bersama.” Yo kudune ngunu rek, jangan anggap lembaga itu punyanya Kepsek, Waka kurikulum, dan Guru-gurunya sendiri yo abot rek nek mbuk pikir dewe.

Setelah acara usai, Alya menghampiri Bu Ratna. “Terima kasih, Bu,” katanya.

Bu Ratna mengangguk. “Saya masih harus menjaga pagar,” ujarnya pelan, “tapi mungkin kita bisa menanam pohon di dalamnya.”

Alya tertawa kecil. “Paling tidak ada tempat berteduh.”


Hari ujian tiba. Kertas soal dibagikan, ruang ujian sunyi, suara detik jam seperti tetes hujan yang teratur. Alya menutup mata sedetik—mengingat napas satu menit yang diajarkan Pak Darman—lalu membuka. Nomor satu: persamaan kuadrat. Ia menulis perlahan, tidak tergesa, mencari pola. Di kepala, ia membayangkan gerak parabola bola yang ditendang, bukit parabola yang ia gambar di papan. Ia mengerjakan satu per satu, menandai soal yang sulit. Ketika kepalanya berdenyut, ia berhenti tiga detik, menarik napas.

Keluar dari ruang ujian, matahari terasa berbeda—lebih hangat. Raka melambai dari jauh. “Gimana?”

“Tidak sempurna,” jawab Alya, “tapi aku paham yang kukerjakan.”

“Kayaknya itu jauh lebih sempurna, daripada kita tidak paham apa yang kita kerjakan” kata Raka.

Di ujung koridor, Pak Darman berdiri, tidak boleh mendekat sesuai aturan, tapi ia mengangkat jempol. Alya membalas dengan senyum. Bu Ratna lewat, membawa map, bergegas. Ia menoleh sekilas, menautkan pandang, memberi anggukan kecil. Bukan kemenangan, bukan juga kekalahan. Hanya langkah maju yang sederhana.

Malamnya, Alya membuka buku sketsa. Ia menggambar sebuah halaman sekolah: pagar tetap ada, tapi di dalamnya ada pohon rindang, bangku panjang, ruang baca terbuka. Di sisi, ia menulis: Sekolah tempat manusia tumbuh, bukan sekadar angka.

Ia menutup buku. Dari dapur, suara emak memanggil, “Ly, makan dulu.” Alya berdiri, menyahut, “Iya, Mak.” Di luar jendela, angin lembut menggeser tirai. Tidak semua yang penting bisa diukur, pikirnya. Tapi ada hal-hal yang bisa dirasakan: rasa pulih, rasa paham, rasa dilihat.

Dan mungkin, dari rasa itulah pendidikan akhirnya menemukan kembali maknanya—di tengah sistem yang kaku, di antara guru yang terhimpit aturan pemerintah, dan siswa yang belajar menjadi dirinya sendiri.

Biodata Penulis
Nama : Choiril Anwar
TTL : Di sebuah sudut bumi, pada pagi yang dipeluk cahaya
Alamat : Di antara rindu dan mimpi yang belum selesai, menapaki jalan waktu
Pekerjaan : Pengelana kata, perajut makna
Hobi : Menyulam huruf menjadi kalimat, menanam senyum di wajah hari, dan mengumpulkan senja di kantong hati
Tentang Saya:
Aku adalah penjelajah sunyi yang jatuh cinta pada bahasa. Setiap langkahku adalah puisi, setiap hembus napasku adalah doa yang terselip di antara huruf-huruf. Aku hidup di antara lembaran buku dan warna langit sore, belajar dari hujan, bercakap dengan angin, dan berjanji pada diri sendiri untuk tak pernah berhenti mencintai kehidupan.
Aku percaya, manusia bukan sekadar nama dan tanggal lahir, tapi kisah panjang yang mengalir, menunggu dibaca, dipahami, dan diabadikan.

Posting Komentar