Pendidikan Ala Rasulullah yang Seringkali Terlupakan

Table of Contents

Pendidikan Ala Rasulullah Relevan di zaman Modern

Hujan baru saja reda ketika Fahri menutup laptopnya di pojok perpustakaan kampus. Layar menampilkan draf skripsi yang belum bergerak sejak seminggu lalu: “Metode Pendidikan di Zaman Rasulullah dan Relevansinya di Sekolah Modern.” Judulnya tampak gagah; isinya rapuh. Ia menghela napas. Di kepalanya, pendidikan selalu berubah jadi angka: rubrik penilaian, grafik kelulusan, akreditasi. Semua penting, tentu, tapi rasanya ada sesuatu yang hilang—bagian lembut yang membuat ilmu mau tinggal lebih lama di hati.

“Macet?” suara Ustadz Haris datang dari belakang rak buku.

Fahri berdiri, menangkupkan tangan. “Iya, Ustadz. Saya sudah baca beberapa buku metodologi. Rasanya… kering.”

Ustaz Haris tersenyum. “Kalau tekadmu menulis ‘pendidikan ala Rasulullah’, jangan mulai dari daftar isi. Mulailah dari hati.”

“Caranya, Ustadz?”

“Datangi majelis beliau,” jawabnya santai. “Bukan dengan mesin waktu, tapi dengan sirah. Baca pelan, bayangkan, rasakan. Lihat bagaimana beliau memanusiakan manusia.” Ia menepuk bahu Fahri. “Besok sore datang ke ruang dosen. Bawa catatan tentang tiga hal: kelembutan, keteladanan, dan sabar. Tiga pilar ini, insyaAllah, cukup untuk menggerakkan kita.”

Malamnya, kamar Fahri temaram oleh lampu meja. Ia membuka buku sirah yang selama ini hanya jadi pembatas rak. Halaman demi halaman menyalakan bayangan: sebuah rumah sederhana, lantai tanah, tikar pelepah kurma, dan wajah-wajah sahabat yang duduk melingkar. Ada rasa damai yang asing namun akrab.

Entah pukul berapa, kepala Fahri terkulai. Di antara kantuk dan sadar, ia merasa berada di sebuah majelis. Udara hangat, suara halus membacakan ayat, dan seseorang yang tak perlu dikenalkan. Rasulullah ï·º duduk di tengah, wajahnya memancarkan ketenangan yang membuat jantung berhenti berdebar.

Seorang pemuda datang dengan langkah ragu. “Wahai Rasulullah, ajarkan aku,” katanya. Beliau tersenyum, memanggilnya dengan panggilan lembut, bukan menuding kebodohannya. Beliau bertanya, mendengar, lalu menjelaskan dengan kata-kata yang mudah, mengulang seperlunya, memberi contoh sederhana di sekitar: pasir, pelepah, air. Tidak ada bentakan. Tidak ada ejekan. Yang ada hanya pertemuan antara ilmu dan kasih sayang.

Di sisi lain majelis, seorang sahabat tua salah menyebutkan bacaan. Alih-alih ditegur di depan semua orang, Rasulullah ï·º menoleh, menatap dengan mata yang menyampaikan: “Mari perbaiki bersama.” Ia memperbaiki bacaan itu, pelan, diulang tiga kali—bukan untuk mempermalukan, tapi agar mudah teringat. Fahri melihat semua orang tersenyum lega, seakan dimuliakan oleh cara beliau mengajar.

Lalu datang seorang anak kecil berlari membawa cawan air. Rasulullah ï·º menunduk, menerima, dan mendoakan si anak. Anak itu tertawa lepas, lalu duduk di pinggir majelis dengan bangga. Fahri merasakan sesuatu mencubit dadanya: anak-anak di kampusnya jarang sekali diberi tempat di ruang-ruang ilmu; sering dianggap pengganggu, bukan calon pewaris.

Adegan berganti. Majelis itu pindah ke pasar. Rasulullah ï·º memperhatikan seorang pedagang yang menaruh barang bagus di atas, yang kurang bagus di bawah. Beliau menegur, bukan dengan amarah, melainkan dengan menyingkap barang itu dan mengingatkan tentang kejujuran. Pelajaran keadilan tidak diajarkan lewat definisi, tapi lewat tindakan nyata di tempat kejadian. Fahri mengangguk pada dirinya sendiri: pendidikan adalah teladan yang bergerak.

Tiba-tiba, suara adzan menyapu udara. Majelis bubar, tapi bukan bubar dari ilmu—mereka bergerak untuk menyambung ilmu dengan ibadah. Fahri ingin memanggil, ingin bertanya banyak hal, namun yang keluar justru desir hangat di mata.

Ia terbangun dengan napas panjang. Hujan di luar jendela telah benar-benar berhenti. Di meja, buku sirah masih terbuka, namun isinya seperti baru: bukan lagi kumpulan peristiwa, melainkan cermin untuk zaman ini.

“Lalu, apa yang kamu dapat?” tanya Ustadz Haris esok sore.

Fahri menatap catatannya. “Tiga hal, Ustadz. Pertama, kelembutan: Rasulullah selalu memulai dari nama, dari panggilan sayang, dari mendengar—sebelum menyuruh. Kedua, keteladanan: beliau tidak hanya menyuruh jujur; beliau menunjukkan kejujuran bahkan dalam perkara kecil. Ketiga, sabar: beliau mengajarkan bertahap, tidak memaksa manusia melompat di tangga yang belum diinjak.”

Ustadz Haris mengangguk. “Kalau begitu, kembangkan tiga pilar itu dalam konteks sekarang.”

Fahri ragu. “Bagaimana mengeja kelembutan di sekolah yang menuntut angka? Guru dikejar administrasi, siswa dikejar kuota hafalan, orang tua dikejar gengsi. Saya takut tulisan saya tinggal teori.”

Ustadz Haris menatapnya lama. “Tidak ada yang lebih praktis daripada teori yang benar. Coba mulai dari kelasmu sendiri—tempatmu praktik mengajar. Tulis apa yang bisa kamu ubah, walau kecil.”

Pekan berikutnya, Fahri masuk ke kelas praktik mengajar di sebuah madrasah tsanawiyah. Dua puluh lima pasang mata menatapnya dengan selang-seling antusias dan kantuk. Ia teringat majelis dalam mimpinya: sapaan dahulu, perintah kemudian.

“Assalamu’alaikum,” sapanya dengan tulus, menyebut nama-nama yang sempat ia hafal dari daftar hadir. Wajah-wajah canggung berubah cair. “Hari ini kita belajar tentang amanah,” lanjutnya, “tapi bukan dari definisi. Kita mulai dari cerita.”

Ia menceritakan pedagang yang menyembunyikan barang buruk di bawah. Ia tidak menyebut nama kota atau tahun; ia menyebut tetangga, warung, dan belanja harian yang mereka kenal. Lalu ia mengeluarkan dua kantong kacang tanah—satu bagus di atas, satu tercampur. “Mana yang kalian pilih? Mengapa?” Diskusi mengalir. Beberapa siswa bercerita tentang pengalaman ditipu penjual; yang lain mengingatkan diri sendiri pernah curang saat tugas. Fahri tidak menghakimi; ia mengulang pelan hal-hal penting, tiga kali, seperti suara dalam mimpinya.

Di pertemuan berikut, ia mengajak mereka menulis surat untuk diri sendiri: “Satu kebiasaan kecil yang ingin aku perbaiki pekan ini.” Ada yang menulis datang lebih awal, ada yang menulis mengembalikan buku tepat waktu. Fahri membaca satu per satu di rumah, lalu menanggapi dengan catatan singkat: “Aku doakan.” Ia teringat bagaimana Rasulullah mendoakan anak kecil pembawa air. Doa adalah pendidikan yang paling lembut, dan ini seringkali dilupakan pendidik zaman sekarangyang hanya mengajar dengan panduan LKS memberi tugas lalu pulang tanpa memberi kesan.

Tidak semua berjalan mulus. Ada juga siswa yang tetap ribut, ada tugas yang terlambat. Suatu hari, seorang anak memalsukan tanda tangan orang tuanya. Kepala sekolah ingin menghukumnya di depan kelas. Fahri memberanikan diri mengusul: “Boleh saya berbicara berdua dulu?” Di ruang BK, Fahri duduk sejajar, bukan di atas. “Kenapa kamu lakukan?” tanya Fahri.

Anak itu menunduk. “Bapak saya marah kalau lihat nilai saya.”

“Kalau kamu jadi saya, apa yang harus saya lakukan?”

Ia terdiam, lalu berbisik, “Saya ingin diperbaiki, bukan dipermalukan.”

Fahri menelan ludah. Ia teringat mata Rasulullah dalam mimpinya—mata yang mengajak membangun bersama. “Baik,” katanya, “saya akan minta kamu memperbaiki kesalahan ini. Kamu akan menulis surat ke orang tua, jujur, dan saya akan dampingi ketika kamu menyerahkan. Setelah itu, kita susun jadwal belajar yang kamu sanggupi—kecil dulu.” Anak itu mengangguk, lega. Hukuman tetap ada, tetapi bentuknya perbaikan, bukan penghabisan.

Berita itu menyebar ke guru lain. Ada yang setuju, ada yang sinis. “Kalau terlalu lembut, anak manja,” komentar seorang guru senior. Guru senior rek seringkali merasa dirinya lebih baik, lebih pintar, lebih tahu keadaan lembaganya—kadang kala juga angkuh, wuihh ngerii toh? Hehehe.

Fahri tidak membantah. Ia paham kegelisahan itu. Ia tidak ingin mengganti disiplin menjadi permisif. Ia hanya ingin disiplin punya jiwa. Pada rapat kecil, ia mengusulkan satu program sederhana: “Jam Telinga”—lima menit di awal pelajaran di mana guru hanya mendengar: satu siswa berbagi, guru merespon singkat. “Kita tidak akan kehilangan silabus,” katanya, “kita hanya menambahkan sedikit ruang bernapas dari kekakuan aturan.”

Beberapa guru mencoba. Anehnya, kelas tidak makin kacau; justru lebih mudah diajak fokus. Seorang guru matematika menulis di grup, “Anak-anak lebih cepat paham materi hari ini. Mungkin karena sudah ‘keluar uneg-uneg’ dulu.” Fahri tersenyum. Sirah bergerak, walau perlahan.

Minggu-minggu berlalu. Draf skripsi Fahri menebal, bukan oleh teori yang berjejal, melainkan oleh catatan lapangan: cara memanggil nama, menatap mata, mengulang penjelasan dengan sabar, mencontohkan sebelum memerintah, memberi tugas yang bertahap, menegur tanpa mempermalukan, mendoakan setelah mengajar. Ia menamai bab utamanya “Tiga Pilar: Lembut, Menjadi Contoh, dan Sabar Bertahap.”

Pada hari bimbingan terakhir, Ustadz Haris membaca pelan. “Bagian penutupmu bagus,” katanya. “Boleh dibacakan?”

Fahri mengangguk, suaranya pelan tapi mantap:

“Di zaman kita, rapor dan ranking seperti mata uang. Kita butuh itu—untuk beasiswa, untuk kerja, untuk administrasi. Namun, pendidikan ala Rasulullah mengingatkan bahwa sebelum ‘rapor’, ada ‘rapor hati’: apakah murid merasa dimuliakan? Apakah ia diajak merdeka dari kebohongan? Apakah ia menemukan teladan yang bisa diikuti, bukan sekadar aturan yang harus dipatuhi? Mungkin kita tak mampu mengubah seluruh sistem. Tapi kita selalu punya ruang kecil: cara memanggil, cara menegur, cara menunggu. Di ruang-ruang kecil itulah sunnah pendidikan itu bisa tumbuh kembali—pelan, pasti, dan menenangkan.”

Ustadz Haris menutup naskah. “Inilah yang kumaksud kemarin,” katanya. “Jangan mulai dari daftar isi; mulai dari hati.”

Pendidikan Ala Rasulullah dikaji Mahasiswa

Fahri tersenyum. Di luar jendela, kampus mulai ramai oleh mahasiswa yang menunggu kelas. Ia teringat majelis yang pernah menyapanya dalam mimpi—kini bukan lagi mimpi. Ia berdiri, merapikan berkas, dan berjanji pada dirinya: di kelas manapun ia mengajar nanti, ia akan membawa tiga pilar itu. Ia tahu dunia tidak langsung berubah. Tapi ia juga tahu: satu doa yang tulus, satu teladan kecil, satu kesabaran yang tidak meledak—seringkali itulah bagian dari pendidikan Rasulullah yang terlupakan, dan kini saatnya diingat kembali.

 


Choiril Anwar adalah kertas-kertas yang berserakan, lusuh, dan terbuang. Dia berusaha memungut kembali kertas-kertas itu dengan secercah sinar harapan, menyusun kembali satu per satu abjad, huruf, kalimat agar menjadi makna.

Semoga cerpen ini bisa menjadi inspirasi bagi saya sendiri, para pendidik/guru, dan bagi pembaca semua tak terkecuali, lebih-lebih bisa di aplikasikan wahh betapa bahagianya aku rekk. Hehehe 

Posting Komentar