Pendidikan Ala Rasulullah yang Seringkali Terlupakan
“Macet?” suara
Ustadz Haris datang dari belakang rak buku.
Fahri berdiri,
menangkupkan tangan. “Iya, Ustadz. Saya sudah baca beberapa buku metodologi. Rasanya… kering.”
Ustaz Haris
tersenyum. “Kalau tekadmu menulis ‘pendidikan ala Rasulullah’, jangan mulai
dari daftar isi. Mulailah dari hati.”
“Caranya, Ustadz?”
“Datangi
majelis beliau,” jawabnya santai. “Bukan dengan mesin waktu, tapi dengan sirah.
Baca pelan, bayangkan, rasakan. Lihat bagaimana beliau memanusiakan manusia.”
Ia menepuk bahu Fahri. “Besok sore datang ke ruang dosen. Bawa catatan tentang
tiga hal: kelembutan, keteladanan, dan sabar. Tiga pilar ini, insyaAllah, cukup
untuk menggerakkan kita.”
Malamnya, kamar
Fahri temaram oleh lampu meja. Ia membuka buku sirah yang selama ini hanya jadi
pembatas rak. Halaman demi halaman menyalakan bayangan: sebuah rumah sederhana,
lantai tanah, tikar pelepah kurma, dan wajah-wajah sahabat yang duduk
melingkar. Ada rasa damai yang asing namun akrab.
Entah pukul
berapa, kepala Fahri terkulai. Di antara kantuk dan sadar, ia merasa berada di
sebuah majelis. Udara hangat, suara halus membacakan ayat, dan seseorang yang
tak perlu dikenalkan. Rasulullah ï·º duduk di tengah, wajahnya memancarkan ketenangan yang membuat
jantung berhenti berdebar.
Seorang pemuda
datang dengan langkah ragu. “Wahai Rasulullah, ajarkan aku,” katanya. Beliau
tersenyum, memanggilnya dengan panggilan lembut, bukan menuding kebodohannya.
Beliau bertanya, mendengar, lalu menjelaskan dengan kata-kata yang mudah,
mengulang seperlunya, memberi contoh sederhana di sekitar: pasir, pelepah, air.
Tidak ada bentakan. Tidak ada ejekan. Yang ada hanya pertemuan antara ilmu dan
kasih sayang.
Di sisi lain
majelis, seorang sahabat tua salah menyebutkan bacaan. Alih-alih ditegur di
depan semua orang, Rasulullah ï·º menoleh, menatap dengan
mata yang menyampaikan: “Mari perbaiki bersama.” Ia memperbaiki bacaan
itu, pelan, diulang tiga kali—bukan untuk mempermalukan, tapi agar mudah
teringat. Fahri melihat semua orang tersenyum lega, seakan dimuliakan oleh cara
beliau mengajar.
Lalu datang seorang anak kecil berlari membawa cawan air. Rasulullah ï·º menunduk, menerima, dan mendoakan si anak. Anak itu tertawa lepas, lalu duduk di pinggir majelis dengan bangga. Fahri merasakan sesuatu mencubit dadanya: anak-anak di kampusnya jarang sekali diberi tempat di ruang-ruang ilmu; sering dianggap pengganggu, bukan calon pewaris.
Adegan
berganti. Majelis itu pindah ke pasar. Rasulullah ï·º memperhatikan seorang pedagang yang menaruh barang bagus di
atas, yang kurang bagus di bawah. Beliau menegur, bukan dengan amarah,
melainkan dengan menyingkap barang itu dan mengingatkan tentang kejujuran.
Pelajaran keadilan tidak diajarkan lewat definisi, tapi lewat tindakan nyata di
tempat kejadian. Fahri mengangguk pada dirinya sendiri: pendidikan adalah
teladan yang bergerak.
Tiba-tiba,
suara adzan menyapu udara. Majelis bubar, tapi bukan bubar dari ilmu—mereka
bergerak untuk menyambung ilmu dengan ibadah. Fahri ingin memanggil, ingin
bertanya banyak hal, namun yang keluar justru desir hangat di mata.
Ia terbangun dengan napas panjang. Hujan di luar jendela telah benar-benar berhenti. Di meja, buku sirah masih terbuka, namun isinya seperti baru: bukan lagi kumpulan peristiwa, melainkan cermin untuk zaman ini.
“Lalu, apa yang
kamu dapat?” tanya Ustadz Haris esok sore.
Fahri menatap
catatannya. “Tiga hal, Ustadz. Pertama, kelembutan: Rasulullah selalu memulai dari nama,
dari panggilan sayang, dari mendengar—sebelum menyuruh. Kedua, keteladanan:
beliau tidak hanya menyuruh jujur; beliau menunjukkan kejujuran bahkan dalam
perkara kecil. Ketiga, sabar: beliau mengajarkan bertahap, tidak memaksa
manusia melompat di tangga yang belum diinjak.”
Ustadz Haris
mengangguk. “Kalau begitu, kembangkan tiga pilar itu dalam konteks sekarang.”
Fahri ragu.
“Bagaimana mengeja kelembutan di sekolah yang menuntut angka? Guru dikejar
administrasi, siswa dikejar kuota hafalan, orang tua dikejar gengsi. Saya takut
tulisan saya tinggal teori.”
Ustadz Haris menatapnya lama. “Tidak ada yang lebih praktis daripada teori yang benar. Coba mulai dari kelasmu sendiri—tempatmu praktik mengajar. Tulis apa yang bisa kamu ubah, walau kecil.”
Pekan
berikutnya, Fahri masuk ke kelas praktik mengajar di sebuah madrasah
tsanawiyah. Dua puluh lima pasang mata menatapnya dengan selang-seling antusias
dan kantuk. Ia teringat majelis dalam mimpinya: sapaan dahulu, perintah
kemudian.
“Assalamu’alaikum,”
sapanya dengan tulus, menyebut nama-nama yang sempat ia hafal dari daftar
hadir. Wajah-wajah canggung berubah cair. “Hari ini kita belajar tentang
amanah,” lanjutnya, “tapi bukan dari definisi. Kita mulai dari cerita.”
Ia menceritakan pedagang yang menyembunyikan barang buruk di bawah. Ia tidak menyebut nama kota atau tahun; ia menyebut tetangga, warung, dan belanja harian yang mereka kenal. Lalu ia mengeluarkan dua kantong kacang tanah—satu bagus di atas, satu tercampur. “Mana yang kalian pilih? Mengapa?” Diskusi mengalir. Beberapa siswa bercerita tentang pengalaman ditipu penjual; yang lain mengingatkan diri sendiri pernah curang saat tugas. Fahri tidak menghakimi; ia mengulang pelan hal-hal penting, tiga kali, seperti suara dalam mimpinya.
Di pertemuan
berikut, ia mengajak mereka menulis surat untuk diri sendiri: “Satu kebiasaan
kecil yang ingin aku perbaiki pekan ini.” Ada yang menulis datang lebih awal,
ada yang menulis mengembalikan buku tepat waktu. Fahri membaca satu per satu di
rumah, lalu menanggapi dengan catatan singkat: “Aku doakan.” Ia teringat
bagaimana Rasulullah mendoakan anak kecil pembawa air. Doa adalah pendidikan
yang paling lembut, dan ini seringkali dilupakan pendidik zaman sekarang—yang hanya
mengajar dengan panduan LKS memberi tugas lalu pulang tanpa memberi kesan.
Tidak semua
berjalan mulus. Ada juga siswa yang tetap ribut, ada tugas yang terlambat.
Suatu hari, seorang anak memalsukan tanda tangan orang tuanya. Kepala sekolah
ingin menghukumnya di depan kelas. Fahri memberanikan diri mengusul: “Boleh
saya berbicara berdua dulu?” Di ruang BK, Fahri duduk sejajar, bukan di atas.
“Kenapa kamu lakukan?” tanya Fahri.
Anak itu
menunduk. “Bapak saya marah kalau lihat nilai saya.”
“Kalau kamu
jadi saya, apa yang harus saya lakukan?”
Ia terdiam,
lalu berbisik, “Saya ingin diperbaiki, bukan dipermalukan.”
Fahri menelan
ludah. Ia teringat mata Rasulullah dalam mimpinya—mata yang mengajak membangun
bersama. “Baik,” katanya, “saya akan minta kamu memperbaiki kesalahan ini. Kamu
akan menulis surat ke orang tua, jujur, dan saya akan dampingi ketika kamu
menyerahkan. Setelah itu, kita susun jadwal belajar yang kamu sanggupi—kecil
dulu.” Anak itu mengangguk, lega. Hukuman tetap ada, tetapi bentuknya
perbaikan, bukan penghabisan.
Berita itu
menyebar ke guru lain. Ada yang setuju, ada yang sinis. “Kalau terlalu lembut,
anak manja,” komentar seorang guru senior. Guru senior rek seringkali merasa
dirinya lebih baik, lebih pintar, lebih tahu keadaan lembaganya—kadang kala
juga angkuh, wuihh ngerii toh? Hehehe.
Fahri tidak
membantah. Ia paham kegelisahan itu. Ia tidak ingin mengganti disiplin menjadi
permisif. Ia hanya ingin disiplin punya jiwa. Pada rapat kecil, ia mengusulkan
satu program sederhana: “Jam Telinga”—lima menit di awal pelajaran di mana guru
hanya mendengar: satu siswa berbagi, guru merespon singkat. “Kita tidak akan
kehilangan silabus,” katanya, “kita hanya menambahkan sedikit ruang bernapas dari kekakuan
aturan.”
Beberapa guru mencoba. Anehnya, kelas tidak makin kacau; justru lebih mudah diajak fokus. Seorang guru matematika menulis di grup, “Anak-anak lebih cepat paham materi hari ini. Mungkin karena sudah ‘keluar uneg-uneg’ dulu.” Fahri tersenyum. Sirah bergerak, walau perlahan.
Minggu-minggu
berlalu. Draf skripsi Fahri menebal, bukan oleh teori yang berjejal, melainkan
oleh catatan lapangan: cara memanggil nama, menatap mata, mengulang penjelasan
dengan sabar, mencontohkan sebelum memerintah, memberi tugas yang bertahap,
menegur tanpa mempermalukan, mendoakan setelah mengajar. Ia menamai bab
utamanya “Tiga Pilar: Lembut, Menjadi Contoh, dan Sabar Bertahap.”
Pada hari
bimbingan terakhir, Ustadz Haris membaca pelan. “Bagian penutupmu bagus,” katanya. “Boleh
dibacakan?”
Fahri
mengangguk, suaranya pelan tapi mantap:
“Di zaman kita,
rapor dan ranking seperti mata uang. Kita butuh itu—untuk beasiswa, untuk
kerja, untuk administrasi. Namun, pendidikan ala Rasulullah mengingatkan bahwa
sebelum ‘rapor’, ada ‘rapor hati’: apakah murid merasa dimuliakan? Apakah ia
diajak merdeka dari kebohongan? Apakah ia menemukan teladan yang bisa diikuti,
bukan sekadar aturan yang harus dipatuhi? Mungkin kita tak mampu mengubah
seluruh sistem. Tapi kita selalu punya ruang kecil: cara memanggil, cara
menegur, cara menunggu. Di ruang-ruang kecil itulah sunnah pendidikan itu bisa
tumbuh kembali—pelan, pasti, dan menenangkan.”
Ustadz Haris menutup
naskah. “Inilah yang kumaksud kemarin,” katanya. “Jangan mulai dari daftar isi;
mulai dari hati.”
Choiril Anwar adalah kertas-kertas yang berserakan, lusuh,
dan terbuang. Dia berusaha memungut kembali kertas-kertas itu dengan secercah
sinar harapan, menyusun kembali satu per satu abjad, huruf, kalimat agar
menjadi makna.


Posting Komentar