Luka di Meja Warung Kopi

Table of Contents





Di meja warung kopi yang sederhana,

kami bicara tentang cita dan makna bangsa.

Namun di meja megah nan berkilau,

mereka hanya menghitung untung rugi semata.


Ideologi rakyat digadaikan,

ditukar janji palsu dan harapan semu.

Sementara perut kami keroncongan,

mereka menari di atas ratap penderitaan.


Kami basah oleh keringat yang asin,

terpanggang panas, diguyur hujan tanpa teduh,

hanya demi sesuap nasi untuk anak-istri.

Sedang mereka tertawa,

merampas tanpa rasa, menindas tanpa iba.


Gus Dur berbisik lewat ingatan:

"Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan."

Namun kini, di bulan yang mestinya merdeka,

darah kembali jadi bahasa yang lantang.

Jalan-jalan merah oleh luka,

jerit tak terdengar, manusia diperlakukan

tak lebih berharga dari binatang.


Posskopi-Bjn, 30 Agustus 2025


Posting Komentar