Langkah Kecil Menuju Akhlak Mulia
(cerpen ini terinspirasi nilai-nilai dalam kitab Taisīrul Khalaq)
Pagi itu, Cahya berangkat
sekolah dengan ransel miring dan wajah setengah mengantuk. Ia melewati ruang
tamu tanpa menoleh. Abi sedang duduk di tikar, mushaf terbuka dan secangkir kopi mengepul.
“Assalamu’alaikum, Ca,” sapa Abi lembut.
Cahya berhenti
sejenak, menggumam, “Waalaikumussalam,” lalu melangkah lagi.
“Salam itu bukan formalitas,” kata Abi, masih dengan
nada tenang. “Itu doa. Kita menebar keselamatan sebelum menuntut ilmu.”
Cahya tidak menjawab.
Di kepalanya, salam terasa serupa kata pembuka chat grup: sering diucap, jarang
dirasa. Ia keluar rumah, menjejak pagi yang masih basah oleh embun.
Di gerbang sekolah, Cahya bertemu Amel dan Azira. “Cepet, Ca! Ada challenge baru,” seru Amel, menunjukkan ponselnya. Video pendek itu merekam seorang
anak sedang menirukan gaya guru PPkn mereka,
lengkap dengan nada suara. Cahya tertawa, tapi
perutnya mengerut. Benar, guru itu sering salah ucap dan grogi. Tapi apakah
harus ditertawakan?
Bel mereka berbunyi. Di kelas, Ustadzah Yusro masuk membawa
tumpukan buku. “Sebelum mulai, kita saling menyapa. Cahya, pimpin doa ya,” pintanya.
Cahya berdiri, merapalkan doa belajar dengan cepat, lalu
duduk. Ustadzah Yusro menatapnya
sekilas, tersenyum. “Terima kasih. Hari ini kita bahas tentang amanah
dan adab bertutur.”
Azira berbisik, “Aduh, ceramah lagi.”
Cahya hampir ikut menggerutu, tapi Ustadzah Yusro menggambar
dua lingkaran di papan: Ilmu dan Akhlak. Di tengah, ia menulis Anak
Saleh.
“Ilmu tanpa akhlak ibarat pedang tanpa sarung,”
katanya. “Tajam, tapi mudah melukai. Akhlak tanpa ilmu bisa membuat kita baik
hati tapi mudah tertipu. Tugas kita menumbuhkan keduanya.”
Saat istirahat, Cahya dan
kawan-kawan berkumpul di kantin. Amel menyodok
lengan Azira, “Eh, Pak PPkn lewat! Ayo
rekam gaya jalannya.” Azira menahan tawa, bersiap membuka
kamera. Cahya merasakan panas merambat di pipi. Telinganya
menangkap doa Abi tadi pagi, “Salam adalah doa.” Kalau salam setingkat doa,
lantas mengolok-olok—apa namanya?
“Udah, jangan,” Cahya
menahan tangan Azira. “Gurunya bakal malu.”
“Pahlawan kesiangan!” Amel mencibir. “Santai aja. Cuma lucu-lucuan.”
Cahya berdiri. “Kalau kamu rekam, aku nggak mau ikut nongkrong bareng.” Kalimat itu terdengar besar untuk anak kelas lima. Namun entah dari mana, keberanian itu datang.
Azira menarik tangannya. “Udah, Mel. Nggak usah.” Mereka akhirnya bubar, tapi tatapan Amel jelas-jelas tidak puas.
Malamnya, setelah Isya, Abi memanggil Cahya ke ruang tamu. Di atas meja, ada sebuah kitab dengan
sampul sederhana: Taisīrul Khalaq. Cahya mengingatnya: kitab adab yang sering Abi baca ketika
mengajar anak-anak kampung.
“Abi mau cerita,” katanya. “Dari kitab ini, ada satu
hikmah tentang adab kepada orang tua dan guru. Tapi sebelum itu, Abi mau dengar
hari Cahya.”
Cahya menceritakan soal video yang batal dibuat. Abi
mendengarkan tanpa menyela—mata tak berpindah, tubuh condong ke depan. Cahya tidak menyangka, didengar seperti itu terasa nyaman.
“Bagus,” ujar Abi. “Kamu sudah menjaga marwah—kehormatan—seorang guru. Di Taisīrul Khalaq,
murid diajarkan menahan lisan, menundukkan pandangan dari keburukan, dan
memuliakan orang yang mengajar. Tidak selalu mudah, tapi itu jalan yang
menenangkan.”
Abi membuka kitab, jari telunjuknya berhenti pada satu
paragraf. “Di sini disebutkan, ‘Anak yang membiasakan salam, sopan pada orang
tua dan guru, dan menepati janji, akan dimudahkan Allah memahami ilmu.’ Abi
tidak bisa menjanjikan raportmu langsung bagus. Tapi adab itu magnet yang
menarik keberkahan.”
Cahya mengangguk pelan. “Abi,” katanya ragu, “kenapa sih
adab harus duluan? Bukannya yang dites itu pelajaran?”
“Karena adab mempersiapkan hati. Ilmu itu ibarat air;
hati tanpa adab seperti tanah keras—airnya ke mana-mana. Dengan adab, hati jadi
tanah yang menyerap. Besok, coba mulai dari hal kecil: salam yang mantap, duduk
rapi, tatap guru ketika beliau bicara, dan… shalat tepat waktu.”
Cahya menghela napas. Shalatnya memang sering mepet. “Baik,
Bi.”
Malam itu, Cahya menuliskan target kecil di kertas: Salam – Shalat tepat waktu – Tatap mata saat guru bicara – Jujur. Ia menempelkan kertas itu di almari.
Hari-hari berikutnya membawa ujian kecil yang tak
tertulis di jadwal sekolah.
Ujian pertama datang di pagi hari: alarm Subuh. Cahya menggeliat, ingin mematikan alarmnya, tapi
mengingat kertas target. Ia bangun, berwudhu, lalu shalat di samping Abi. Rasa
kantuk seperti bulu burung yang rontok berterbangan. Setelah shalat, Abi mengajak berdzikir pelan. “Salam
dulu ke Bunda, baru berangkat,” pesannya.
“Assalamu’alaikum, Nda,” Cahya mengecup punggung tangan. Bunda tersenyum, “Waalaikumussalam. Hati-hati di jalan.”
Di sekolah, Ustadzah Yusro menatap Cahya yang mengucap
salam lebih mantap. “Alhamdulillah,” katanya lirih. Pelajaran IPA dimulai.
Ketika Ustadzah menerangkan tentang perubahan wujud benda, suara Amel kembali mengganggu di belakang, menirukan “suara
beku”. Cahya menoleh, hendak menyuruh diam, tapi memilih
mengangkat tangan.
“Ustadzah, boleh saya
ulangi dengan contoh lain, biar teman-teman makin paham?” Cahya maju, mengambil es batu dari termos kecil di meja
demonstrasi, memegangnya di telapak tangan. “Kalau ini dibiarkan, dia mencair,
jadi air. Dari padat ke cair. Kalau dipanaskan lagi, jadi uap.” Murid-murid
memperhatikan. Amel tak lagi bersuara.
Setelah kelas usai, Ustadzah Yusro memanggil Cahya. “Terima kasih Ca, kamu
menegur teman-teman tanpa mempermalukan. Begitu adab Nabi—mengajak tanpa
merendahkan.”
Cahya menunduk, merasakan hangat merayap sampai ke tengkuk.
“Saya belajar dari Abi, Ustadzah.”
Ujian kedua datang saat istirahat. Azira kehilangan uang jajannya. “Kayaknya jatuh,” katanya
panik. Amel tertawa, “Pantes mukamu pucat.” Cahya ikut mencari sekitar kantin. Tak lama, ia menemukan
uang itu dekat pot bunga. Ia memungutnya, berlari ke Azira.
“Ini. Jangan taruh di saku luar lagi.”
Azira memeluknya singkat. “Terima kasih, Ca.”
“Amanah itu bukan hanya menjaga milik orang lain,” Ustadzah Yusro berkata saat mendengar cerita itu. “Tapi juga menjaga diri agar tidak tergoda.” Cahya teringat pada catatannya: jujur. Hatinya terasa lapang, seperti halaman masjid setelah hujan.
Suatu siang, badai yang lebih besar datang. Di grup
kelas, beredar foto hasil ujian Matematika. Nilai Cahya merah. Amel mengirim pesan
pribadi: “Gampang. Aku punya bocoran soal ulangan besok. Mau?” Cahya tertegun. Gambar lembar soal dengan stempel
sekolah—apakah asli?
Ia menutup chat, meletakkan ponsel. Jantungnya
mengetuk seperti palu kecil. Kalau tidak dipakai, aku ketinggalan. Kalau
dipakai, aku berkhianat pada diriku sendiri. Cahya teringat ucapan Abi, “Keberkahan adalah rezeki yang
membuat hati tenang.” Bocoran soal jelas tidak menenangkan.
Cahya membuka catatan Taisīrul Khalaq yang ia tulis
ulang: Menjauhi khianat, menepati amanah, dan menjaga lisan dari dusta.
Ia menghapus pesan Amel, lalu mengirim balasan singkat: “Maaf,
Mel. Aku belajar aja. Semoga nilainya tetap baik.”
Malamnya, Cahya minta Abi
menemani belajar. “Yang ini susah,” katanya, menunjukkan pecahan campuran. Abi
tidak menggurui; ia mengambil biji-biji kacang dari toples, menyusunnya di
meja. “Bayangkan pecahan sebagai biji. Ketika kamu mengurangi, kamu memindahkan
biji, bukan menghilangkan.” Pelan-pelan, pecahan itu menjadi permainan. Cahya mengerjakan lima soal dengan benar. Tidak semua, tapi
cukup membuatnya berani.
Ketika UAS tiba, Cahya masih deg-degan. Ia menarik napas, mengingat target
kecilnya, lalu menulis namanya di pojok kanan atas. Soal demi soal ia kerjakan
dengan peluh di kening. Di pertengahan waktu, ia memejamkan mata sejenak,
berdoa pendek sebagaimana Abi ajarkan: “Ya Allah, mudahkanlah.”
Hasilnya diumumkan seminggu kemudian. Nilai Rafa tidak melompat jadi sempurna—tapi bukan merah. 78, angka yang jujur. Dito diam saja, ia juga lulus, entah bagaimana caranya. Bima menepuk bahu Rafa. “Kamu hebat. Kamu berani.”
Rafa tersenyum kecil. “Aku cuma mencoba.”
Sore itu, Cahya kembali duduk
di ruang tamu. Abi membolak-balik kitab Taisīrul Khalaq
sambil tersenyum. “Abi lihat perubahanmu bukan dari nilai, tapi dari cara kamu
memberi salam, menjaga lisan, tepat waktu shalat, dan berani jujur. Itulah buah
adab.”
“Masih sering salah juga, Bi,” Cahya menatap jari-jarinya. “Kadang pengin ikut ketawa,
kadang pengin yang cepat saja.”
“Wajar. Jalan kebaikan itu diulang-ulang, bukan sekali jadi.” Abi menutup kitab. “Tahu tidak, kitab Taisīrul
Khalaq mengajarkan pendidikan anak
lewat kebiasaan kecil: salam, doa, adab makan, hormat pada orang tua dan guru,
menahan emosi, jujur, amanah. Kita ambil satu, ulangi sampai jadi bagian dari
diri, baru tambah yang lain. Itu namanya tadarruj—bertahap.”
Cahya mengangguk. “Berarti targetku bulan depan nambah:
bantu Bunda di dapur setiap sore.”
Abi terkekeh, “Bundamu
pasti senang.”
Dari dapur terdengar suara piring beradu. Bunda muncul membawa pisang goreng. “Kalau begitu, mulai
dari sekarang.” Cahya berdiri, membantu menyusun
piring. “Assalamu’alaikum,” katanya pada Bunda, kali
ini dengan senyum yang penuh.
“Waalaikumussalam,” jawab Bunda. “Masya Allah, anak Bunda tambah cantik akhlaknya.”
Di luar, langit sore menipis menjadi jingga. Cahya menatap kertas kecil di almari: Salam – Shalat –
Tatap mata – Jujur – Bantu Bunda.
Tulisannya kini penuh coretan kecil sebagai tanda telah dikerjakan. Ia
menambahkan satu baris baru: Jaga teman dari olok-olok.
Malam itu, Cahya menutup buku pelajaran dengan hati yang ringan. Nilai bukan lagi satu-satunya tujuan; ia menemukan arah yang lebih utuh. Di kepalanya, adab bukan lagi teori di halaman kitab, melainkan langkah-langkah kecil yang bisa ia tempuh setiap hari. Dan setiap langkah kecil itu, ia percaya, akan menuntunnya menuju akhlak mulia—sebagaimana diajarkan oleh orang-orang saleh dulu, dan seperti yang selalu diingatkan dalam kitab Taisīrul Khalaq.
Berangkat dari skripsi saya pada tahun 2022 lalu yang berjudul “Relevansi Akhlak Pendidik dan Peserta Didik dalam Kitab Taisir Al Khallaq Karya Syaikh Hafiz Hasan Al-Mas’udi dengan Tujuan Pendidikan Islam”, cerpen ini saya tulis agar enak dibaca, mudah diapahami, lebih-lebih dapat memberi inspirasi ataupun motivasi pada pembaca semua. Terimakasih, salam akal waras.

Posting Komentar