Bara di Dalam Diri

Table of Contents

Amarah datang tanpa pintu,

mengalir bersama darah,

menyalakan bara di saraf-saraf yang rapuh.

Penglihatan menjadi hampa,

makna runtuh di bawah nyala yang berkuasa.


Di puing kesabaran, ego berdiri tegak,

menepis setiap nasihat

dengan keyakinan palsu pada cahaya semu.

Namun, ketika bara itu tersiram air suci,

kesadaran kembali—

dan penyesalan menetes

seperti hujan yang tak bisa dihentikan.


Maka terangkatlah doa:

Wahai Dzat yang berdiri sendiri, genggamlah tubuh dan jiwaku.

Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teduhkanlah gejolak ini.

Wahai Dzat yang Maha Suci, kembalikan ruhku pada kemurniannya.

Posting Komentar