Genderang Kehancuran

Table of Contents
Puisi ini menggambarkan keresahan, kemunafikan dan kepasrahan


Hari kian mencekik,

dunia terasa begitu munafik.

Para penghuni mulai panik,

satu per satu alam pun mengusik,

menerima titah Tuhan Yang Maha Asyik.


Kata bukan lagi doa,

hanya dusta

yang meluncur dari mulut hina.

Wahai nama yang bersembunyi,

tampakkanlah diri,

jangan biarkan aku terus mencari

dalam perjalanan sunyi

membelah jalan-jalan berduri.


Kabut pagi menyelimuti,

mentari terasa dihalang-halangi.

Setiap langkah harus punya tanda bukti,

seakan malaikat sedang beroperasi.

SIM—Surat Izin Meninggal—

tak pernah sempat kuurus lagi.


Tubuh ini kian rapuh,

genderang kehancuran bergemuruh.

Kini aku bersimpuh

di hadapan Sang Hyang Maha Ampuh.

Posting Komentar