Prof. KH. Abdul Ghofur dan Transformasi Pesantren di Era Modern
"Aku wakafkan hidupku untuk pendidikan, dan thoriqohku adalah pendidikan."
— KH. Abdul Ghofur (NU Online)
Ulama, Pesantren, dan Zaman yang Terus Bergerak
![]() |
| KH. Abdul Ghofur yang sedang membalagh Kitab dengan santrinya di Masjid Agung Sunan Drajat. (Foto; Facebook) |
Salah satu ulama yang mampu menjaga
keseimbangan antara tradisi dan transformasi adalah Prof. Dr. KH.
Abdul Ghofur, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat di Paciran,
Lamongan. Di tangan beliau, pesantren bukan hanya menjadi tempat belajar agama,
tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan dan kemajuan masyarakat.
Pendidikan dari Pesisir: Menyatukan Kitab dan Realitas
Berdiri di tanah sejarah Wali Songo,
pesantren yang diasuh KH. Abdul Ghofur menjelma sebagai salah satu lembaga
pendidikan Islam yang adaptif terhadap zaman. Beliau mengembangkan sistem pendidikan
terpadu: madrasah diniyah, sekolah formal, hingga pelatihan vokasional.
Di lingkungan santri, beliau
menekankan bahwa jihad hari ini bukan lagi dengan senjata, melainkan dengan
ilmu dan kesungguhan belajar:
“Sekarang sudah bukan masanya berjihad
dengan peperangan, melainkan jihad melawan kemalasan dan kebodohan dengan
memperbanyak ibadah dan serius belajar.”
— KH. Abdul Ghofur (NU Online)
Menjadi Profesor, Tanpa Meninggalkan Pesantren
Sebagai ulama yang bergelar Profesor
dan Doktor, KH. Abdul Ghofur menjembatani dunia pesantren dengan dunia
akademik. Ia menunjukkan bahwa seorang kiai bisa berkiprah dalam ruang ilmiah
tanpa meninggalkan akar keulamaannya.
Gelar akademik tersebut tidak
membuat beliau berjarak, justru semakin memperluas medan dakwah dan pendidikan.
Ia membimbing santri tidak hanya menguasai kitab, tetapi juga siap menghadapi
realitas dunia modern.
Nilai Walisongo: Fondasi Karakter Pendidikan
Pendidikan ala KH. Abdul Ghofur
tidak lepas dari warisan Sunan Drajat, dengan nilai-nilai luhur seperti:
- Eling lan waspada
– Selalu ingat kepada Tuhan dan waspada terhadap hawa nafsu.
- Mangan ora mangan sing penting kumpul – Kebersamaan lebih utama daripada materi.
- Ojo dumeh, ojo kagetan, ojo gumunan – Jangan sombong, jangan mudah takjub, jangan mudah
terkejut.
Nilai-nilai ini tidak hanya
diajarkan, tapi ditanamkan dalam kehidupan santri sehari-hari. Karakter menjadi
fondasi utama dari pendidikan yang beliau jalankan.
Pendidikan untuk Umat, Bukan Hanya untuk Santri
KH. Abdul Ghofur memandang pesantren
sebagai pusat pengabdian. Ia aktif mendidik masyarakat sekitar—khususnya
kawasan pesisir yang kurang terjangkau pendidikan tinggi.
Dalam banyak kesempatan, beliau
menyampaikan cita-cita besar:
“Bila semua pemimpin dan pejabatnya
lulusan pesantren, Insya Allah negara ini akan menjadi negara yang sejahtera,
religius, dan bebas korupsi.”
— KH. Abdul Ghofur
Membentuk Generasi Tangguh dan Amanah
Selain mendidik soal ilmu dan
keterampilan, KH. Abdul Ghofur sangat menekankan integritas moral. Ia
mengajarkan betapa besar dampak kezaliman, terutama yang dilakukan oleh
pemegang kekuasaan.
“Dosa korupsi adalah dosa yang
paling berbahaya terhadap sesama. Pelaku tidak akan masuk surga hingga
menebusnya satu demi satu kepada seluruh rakyat.”
— KH. Abdul Ghofur
Penutup: Warisan Transformasi yang Hidup
KH. Abdul Ghofur membuktikan bahwa pesantren
bukanlah institusi kuno, melainkan ruang yang hidup, terus bergerak,
dan mampu menjawab tantangan zaman.
"Pesantren yang kuat bukan
hanya menguasai kitab, tapi juga mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa
kehilangan akhlaknya."
Beliau bukan hanya pendidik, tapi
pelayan umat. Bukan hanya pengasuh pesantren, tapi penjaga warisan keilmuan dan
karakter Islam Nusantara. Transformasi yang beliau bangun bukan dengan gemuruh,
tapi dengan keteladanan.

Posting Komentar