Affan di Tengah Asap
“Bang, ini orderan terakhir ya? Nanti aku pulang,” suara Affan terdengar pelan lewat telepon. Dari seberang, ibunya menjawab dengan nada khawatir,
“Cepat pulang, Nak. Jangan terlalu lama di jalan. Ibu cemas.”
“Iya, Bu. Sabar, ya. Affan pulang bawa nasi goreng ini, sekalian antar pesanan.”
Ia menutup telepon. Jaket hijau lusuh menempel di tubuhnya, helm hitam menutupi wajah yang masih muda. Di tangannya, kotak makanan plastik diletakkan erat di dalam tas besar di punggung. Motor tuanya bergetar pelan di antara riuh orang-orang yang berlari, berteriak, dan berhadapan dengan barisan tameng Brimob.
“Woy, Ojol! Jangan lewat sini, bahaya!” teriak seorang mahasiswa yang membawa spanduk.
Affan hanya mengangguk. “Saya cuma lewat, Mas. Cari rezeki aja.”
Tiba-tiba suara sirene menggelegar, kendaraan taktis Brimob merangsek maju. Orang-orang panik, sebagian berlari kocar-kacir. Affan mencoba menepi, tapi jalannya tertutup massa yang berdesakan.
“Geser, geser!” teriaknya, namun suara itu tenggelam dalam hiruk-pikuk.
Detik berikutnya—suara ban besar menghantam keras aspal. Jeritan terdengar. Motor Affan terpental, tubuhnya jatuh dan terlindas. Semua berhenti sejenak, seperti dunia membeku.
“Bang! Bangun, Bang! Astaghfirullah…” seorang rekan ojol berlari menghampiri, menahan tubuh Affan yang sudah bersimbah darah.
“Bu… tolong bilang ke Ibu… Affan… pulang telat,” bisiknya dengan napas terputus.
Isak tangis pecah. Orang-orang berkerumun, marah sekaligus takut.
“Pembunuh! Kalian bunuh rakyat kecil!” teriak seorang mahasiswa sambil menunjuk kendaraan Brimob.
Seorang polisi muda di barisan depan menunduk, matanya basah di balik kaca helm. Ia berbisik pada kawannya,
“Kita… kita nggak bisa begini terus. Mereka bukan musuh kita.”
“Diam. Perintah sudah jelas,” jawab kawannya kaku.
Affan akhirnya dibawa ke mobil relawan, sirene meraung menembus malam Jakarta. Tapi nyawanya sudah pergi lebih dulu, meninggalkan cerita yang tak sempat ia selesaikan.
Keesokan harinya, ribuan ojol mengiringi jenazah Affan. Suara klakson motor menjadi doa, dan di antara tangis ibunya, terdengar lirih,
“Anakku, kau hanya ingin pulang… tapi negara merenggutmu lebih cepat.”
.png)
Posting Komentar